Belajar Coding Sejak SD, Siswa Kudus Ciptakan Robot Line Tracer

  • 21 Sep 2026 15:52 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kudus - Pembelajaran coding dan robotik mulai dikenalkan kepada siswa SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kudus. Tak sekadar belajar teori, para siswa diajak langsung merakit dan memprogram robot untuk menyelesaikan tantangan tertentu.

Pembimbing robotik dari MI Qusiyyah Kudus, Muhammad Sirul Wafa, mengatakan kegiatan tersebut bermula setelah pihak sekolah mengikuti pelatihan yang diadakan Djarum melalui program KOMPAK (Berpikir Komputasional). Menurutnya, metode tersebut mengajarkan cara berpikir logis dan kemudian diaplikasikan dalam pembelajaran coding serta robotik.

"Awalnya kami mengikuti pelatihan yang diadakan Djarum, yang dinamakan KOMPAK atau berpikir komputasional. Metodenya untuk belajar, tetapi kami menggunakan logika coding," ujar Wafa saat ditemui di Festival Berpikir Komputasional di GOR Djarum Jati, Minggu, 20 September 2026.

Setelah mengikuti pelatihan, sekolah kemudian mengembangkan kegiatan tersebut melalui ekstrakurikuler coding dan robotik. Program itu telah berjalan sekitar enam bulan dan mendapat antusiasme dari para siswa.

Karena keterbatasan fasilitas dan kelas, peserta ekstrakurikuler dibatasi. Siswa yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari kelas 3 hingga kelas 6. Wafa menjelaskan, salah satu tantangan terbesar dalam pembelajaran robotik adalah mengenalkan logika coding kepada siswa, terutama siswa kelas bawah.

"Yang paling kecil kelas 3. Tantangannya bagaimana memahamkan anak tentang logika coding, bagaimana robot bekerja dan seperti apa prosesnya," jelasnya.

Salah satu hasil karya siswa adalah robot Linetrace atau robot yang dapat mengikuti garis. Robot tersebut dipersiapkan untuk mengikuti tantangan dengan melewati sejumlah pos.

Siswa kelas 3 hingga kelas 6 terlibat langsung dalam proses perakitan. Mereka diberikan materi terlebih dahulu, kemudian melakukan praktik dengan tetap mendapatkan pendampingan dari pembimbing.

Untuk membuat robot dengan tingkat kerumitan seperti Line Tracer tersebut, proses perakitannya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari. Namun, proses pembelajaran secara keseluruhan membutuhkan waktu lebih lama karena siswa juga harus memahami pemrograman dan sistem kerja robot.

Salah satu siswa kelas VI, Tristan Atallah Fakih Rahman, mengaku tertarik mengikuti kegiatan robotik setelah mencoba ekstrakurikuler tersebut di sekolah. Ketertarikannya semakin besar setelah sekolah mengadakan seleksi untuk mengikuti lomba robotik.

"Saya ikut ekstra robotik di sekolah, kemudian ada lomba dari Djarum. Saat seleksi saya mendapat nilai paling tinggi, jadi diikutkan lomba," kata Tristan.

Dalam perlombaan tersebut, Tristan mengaku memperoleh nilai sekitar 87. Ia menjelaskan, robot yang dibuatnya menggunakan sejumlah sensor. Robot akan bergerak mengikuti garis hitam dengan bantuan sensor infrared.

"Robot ini mengikuti garis hitam untuk bergerak menggunakan sensor infrared. Kemudian akan berhenti di setiap pos menggunakan sensor CDS," jelasnya.

Robot juga dilengkapi LED yang berfungsi berkomunikasi dengan sensor pada setiap pos. Selain itu, terdapat sensor ultrasonik yang membantu sistem robot dalam proses berhenti.

Menurut Tristan, proses pembuatan robot tersebut memiliki tantangan tersendiri, terutama pada bagian pemrograman dan perkabelan. Namun, dengan pendampingan pembimbing robot dari gurunya, rmaka robot dapat dirakit dalam waktu sekitar satu hingga dua hari.

Ke depan, Wafa mengatakan kegiatan coding dan robotik tersebut akan terus dikembangkan dan diupayakan agar dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah. "Setelah mengikuti program KOMPAK dari Djarum, kami melakukan pelatihan coding dan robotik, ke depannya memang ingin kami aplikasikan dalam pembelajaran," ucapnya. (RK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....