Undip Kaji Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi di Kawasan Transmigrasi Papua

  • 27 Agt 2026 08:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Keerom - Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP Undip) 2026 memetakan kebutuhan infrastruktur air minum dan sanitasi di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Pemetaan dilakukan sebagai bagian dari kajian Infrastruktur Dasar Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Sanitasi Air Limbah Domestik untuk menghasilkan rekomendasi pembangunan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Langkah awal kajian dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) 1 bersama jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Keerom, Senin, 3 Agustus 2026. FGD menjadi forum konsolidasi dan penyelarasan pemahaman terkait rencana kegiatan, verifikasi data, serta kondisi sarana dan prasarana air minum dan sanitasi yang telah tersedia.

Diskusi juga membahas berbagai kendala pelayanan, potensi pengembangan kawasan, serta kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat. Data dan informasi tersebut menjadi dasar bagi TEP Undip untuk menentukan arah kajian lapangan agar rekomendasi yang dihasilkan dapat diterapkan sesuai kondisi di Kawasan Transmigrasi Senggi.

Plt Kepala Dinas PUPR Kabupaten Keerom, Ferry Amo, menyambut positif kajian yang dilakukan TEP Undip. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat membantu pemerintah daerah memperoleh gambaran faktual sebagai dasar perencanaan pembangunan infrastruktur.

“FGD ini menjadi langkah penting untuk menyatukan pemahaman dan kebutuhan antar pihak. Khususnya, dalam penyediaan air minum dan sanitasi di Kawasan Transmigrasi Senggi,” kata Ferry melalui keterangan tertulis, Rabu, 26 Agustus 2026.

Ia memastikan Pemkab Keerom mendukung proses kajian, termasuk pengumpulan data dan survei lapangan. Harapannya, rekomendasi yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi dasar pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.

Setelah melakukan konsolidasi dengan pemerintah daerah, TEP Undip kemudian turun langsung ke masyarakat di Kampung Woslay Satuan Permukiman (SP) 1. Tim menggali informasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pola pemanfaatan air, kondisi sarana sanitasi rumah tangga, serta kebutuhan pelayanan dasar di tingkat keluarga.

Salah seorang warga Kampung Woslay SP 1, Martina, mengatakan air menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. “Mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga membersihkan lingkungan rumah,” ujar Martina.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa penerapan PHBS di masyarakat sangat berkaitan dengan ketersediaan sarana air bersih dan sanitasi. Kebiasaan hidup bersih tidak cukup hanya didukung edukasi, tetapi juga membutuhkan akses terhadap air yang aman, jamban yang layak, serta lingkungan yang sehat.

Selain itu, masyarakat masih membutuhkan pendampingan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kondisi dan kearifan lokal. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain pengelolaan sampah, pencegahan genangan air limbah domestik, serta pembiasaan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan jamban.

Aspirasi warga tersebut kemudian menjadi pelengkap data yang diperoleh dari pemerintah daerah. TEP Undip memadukan kedua sumber informasi tersebut untuk menyusun rekomendasi SPAM dan sanitasi yang tidak hanya tepat secara teknis, tetapi juga mudah dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat.

Melalui kajian tersebut, TEP Undip berharap pengembangan infrastruktur dasar di Kawasan Transmigrasi Senggi dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Kajian ini sekaligus mendukung pencapaian SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi, SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, SDG 11 mengenai kawasan yang inklusif dan layak huni, serta SDG 17 melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....