Youth Summit 2026, Fokus Pembahasan Studi Digitalisasi dan Mental Health
- 22 Agt 2026 01:36 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Kemampuan digitalisasi siswa dan persoalan mental health menjadi tantangan yang harus dihadapi generasi muda di Indonesia saat ini. Kedua hal itu menjadi fokus pembahasan dalam Youth Summit 2026 yang digelar Aljiro Smansa Semarang dan SDGs Center Undip yang berlangsung di Hotel Santika Premiere Semarang, Jumat, 21 Agustus 2026.
"Forum ini membahas peningkatan sektor pendidikan di Indonesia, salah satunya digital study terkait kemampuan siswa dalam mentransformasikan pembelajaran dari internet dari kepemilikan gawai. Hampir 80 persen siswa SMA punya gawai, mereka ini perlu diakselerasikan dengan kemampuan lain," kata Kepala Pusat SDGs Center Undip, Prof Bulan Prabawani kepada wartawan di sela-sela Youth Summit.
Sejauh ini, kata dia, gawai telah dimanfaatkan untuk membuat konten pembelajaran, tapi hal itu perlu diakselerasi. Mengenai pembelajaran digital, ia menilai perlu adanya pengembangan kurikulum yang diarahkan pada penggunaan media digital, maupun Artificial Inteligence (AI) atau kecerdasan buatan.
"Perlu juga melakukan peningkatan kualitas guru dalam pembelajaran digital, termasuk melibatkan anak atau siswa SMA dalam pengambilan keputusan kebijakan, jadi suara mereka perlu didengar untuk pengembangan pendidikan," ujarnya. Persoalan lain yang perlu dibahas terkait mental health atau kesehatan mental.
"Hampir 30 persen siswa SMA itu merasakan beban pendidikan akademik yang sangat tinggi, belum lagi menyangkut beban keluarga dan sosial mereka. Kalau persoalan ini tidak dikelola dengan baik, maka potensi akan mengarah kepada persoalan kesehatan mental," ungkapnya.
Menurut dia, penanganan masalah kesehatan mental itu salah satunya bisa dibentuk program yang melibatkan siswa sebagai konselor sebaya. Gagasan ini juga sudah dilakukan pada SMAN 1 Semarang.
Forum Youth Summit 2026: National Forum on Youth and Social Issues ini diikuti 250 peserta yang mayoritas berasal dari unsur siswa SMA sederajat, dengan pendampingan guru. Forum ini mempertemukan siswa, guru, pemerintah, akademisi, serta pemangku kepentingan guna membahas peningkatan kualitas pendidikan.
Ketua Umum Aljiro Smansa Semarang Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji SH, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, dan mantan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi hadir dalam forum tersebut. Ikut hadir Rektor Undip Prof Dr Suharnomo yang juga Ketua Komite SMAN 1 Semarang, serta Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan, Ir Moch Abduh PhD.
Menurut Moch Abduh, pembelajaran digital menjadi tantangan dunia pendidikan, salah satu penyebabnya karena adanya kesenjangan infrastruktur seperti internet. "Tahun 2024, tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 79,5 persen, namun ada 57 juta penduduk yang belum terhubung ke internet," ujarnya.
Ia menjelaskan, wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua masih memiliki tingkat penetrasi internet yang lebih rendah, dibandingkan wilayah lainnya. Persoalan lain menyangkut pembelajaran ialah kebutuhan talenta digital di Indonesia.
Pihaknya menuturkan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memetakan kebutuhan talenta digital di Indonesia tahun 2030. Di mana, terdapat kekurangan sekitar 500 ribu talenta digital per tahun yang perlu dipenuhi melalui pelatihan dan program pengembangan lainnya.
"Indonesia butuh sekitar 12 juta talenta digital hingga tahun 2030 untuk mendukung transformasi digital nasional. Ketersediaan saat ini diperkirakan hanya sekitar 9 juta talenta digital hingga tahun 2030, berdasarkan output dari pendidikan formal," ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....