Undip Tawarkan Solusi Berbasis Riset, Bahas Tata Kelola hingga Kesehatan Publik

  • 12 Jun 2026 07:59 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Universitas Diponegoro (Undip) menyajikan riset tata kelola pemerintahan dan kesehatan publik melalui presentasi dua calon guru besar. Kegiatan yang digelar oleh Dewan Profesor Undip itu menampilkan gagasan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat berbasis riset.

Presentasi makalah ilmiah berlangsung di Ruang Sidang Senat Akademik Gedung SA-MWA Kampus Undip Tembalang, Rabu, 10 Juni 2026. Dua calon guru besar yang memaparkan risetnya ialah Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol. Admin dan dr. Muflihatul Muniroh, M.Si.Med., Ph.D.

Teguh Yuwono mengangkat makalah berjudul "Membangun Relational Governance Melalui Integrasi Politik dan Administrasi Menuju Kesejahteraan Sosial di Indonesia". Ia menilai desentralisasi belum sepenuhnya menghasilkan tata kelola pemerintahan yang efektif.

Menurutnya, kondisi tersebut masih diwarnai distorsi politik lokal, politisasi birokrasi, dan ego sektoral. Pendekatan good governance yang terlalu administratif juga dinilai belum cukup menjawab tantangan.

Teguh menawarkan konsep relational governance berdasarkan riset yang dikembangkannya selama dua dekade dengan menempatkan kualitas hubungan dan kepercayaan sebagai fondasi tata kelola yang inklusif. "Agar model ini berhasil, diperlukan penguatan modal sosial, keterlibatan masyarakat, digital governance, dan kapasitas kelembagaan," katanya melalui keterangan tertulis, Kamis, 11 Juni 2026.

Ia menegaskan integrasi politik dan administrasi harus bermuara pada kesejahteraan sosial. Upaya tersebut mencakup pengentasan kemiskinan, penurunan stunting, dan perlindungan kelompok rentan.

Sementara itu, dr. Muflihatul Muniroh memaparkan riset tentang dampak paparan merkuri prenatal. Penelitian tersebut menyoroti kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak.

Ia menjelaskan malnutrisi dan stunting tidak hanya dipicu kurangnya asupan gizi. Paparan logam berat, terutama merkuri, juga menjadi faktor risiko.

Menurutnya, konsumsi ikan dari lingkungan tercemar dapat meningkatkan paparan metilmerkuri. Senyawa itu mampu menembus plasenta dan terakumulasi pada janin.

Hasil uji in vitro dan in vivo menunjukkan paparan merkuri memicu inflamasi dan stres oksidatif. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan neurologis.

Studi pada masyarakat pesisir Semarang, Jepara, dan Mamuju menemukan kaitan antara merkuri dan anemia. Tingginya asupan merkuri berkorelasi dengan penurunan kadar hemoglobin ibu hamil.

Kadar merkuri yang tinggi juga meningkatkan risiko hipertensi gestasional dan preeklamsia. Risiko tersebut lebih besar pada ibu dengan riwayat gangguan kardiovaskular.

Paparan merkuri prenatal dapat memicu kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Dampak lainnya meliputi gangguan pertumbuhan dan peningkatan risiko stunting.

Muflihatul menambahkan, respons tubuh terhadap merkuri dipengaruhi variasi genetik setiap individu, seperti polimorfisme gen GSTT1, GSTM1, GSTP1, dan GPX1). Faktor tersebut berperan dalam metabolisme dan ekskresi merkuri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....