Suarakan Kesetaraan Gender di Kampus, Undip Perkuat Peran Mahasiswa
- 08 Mei 2026 05:14 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Universitas Diponegoro (Undip) memperkuat peran mahasiswa dalam menyuarakan kesetaraan gender melalui seminar bertema “Suara yang Setara: Menguatkan Peran Mahasiswa dalam Kesetaraan Gender di Dunia Pendidikan”. Seminar digelar oleh UPT Layanan Konsultasi, Disabilitas, Penegakan Disiplin, dan Etika Mahasiswa (LKDPDEM) Undip di Aula Prof. Darmanto Jatman, Fakultas Psikologi Undip, Kampus Tembalang, Rabu, 6 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber yang aktif menyuarakan isu kesetaraan gender. Ada Ketua Program Studi Doktor Ilmu Sosial Undip, Dr. Laila Kholid Alfirdaus, mahasiswa Fakultas Psikologi Undip Andrea Neysa Ardelia, serta mahasiswa Fakultas Teknik Undip Felicia Hestiawan.
Kepala UPT LKDPDEM Undip, Annastasia Ediati, mengatakan kesetaraan gender tidak hanya berbicara mengenai perempuan. Akan tetapi, juga menyangkut hak dan kesempatan yang sama bagi seluruh individu.
“Jika membicarakan kesetaraan gender, tidak selalu berarti membicarakan kesetaraan perempuan saja. Namun, juga membicarakan kaum laki-laki,” ungkapnya melalui rilis pers, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurutnya, kesetaraan juga tercermin dalam pelaksanaan seminar yang memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menjadi pembicara bersama dosen. “Di seminar ini, pembicara tidak selalu dosen, mahasiswa pun berhak menjadi pembicara. Itulah kesetaraan gender,” ucapnya.
Dalam pemaparannya, Dr. Laila Kholid Alfirdaus menekankan pentingnya kampus menjadi ruang aman bagi seluruh kalangan. Ia menilai kampus sebagai laboratorium kehidupan yang juga menghadapi berbagai persoalan sosial, termasuk diskriminasi dan pelecehan seksual.
“Jadi, sangat penting untuk membicarakan dan menyuarakan kesetaraan gender di dunia kampus. Kampus adalah laboratorium kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih adanya kasus diskriminasi dan pelecehan di lingkungan kampus yang membuat sebagian mahasiswa merasa tidak aman. “Saat ini banyak kasus pelecehan dan diskriminasi di kampus, baik yang dilakukan dosen maupun mahasiswa, sehingga kampus menjadi ruang yang tidak aman,” katanya.
Sementara itu, Andrea Neysa Ardelia menjelaskan diskriminasi gender dapat berdampak pada kondisi mental korban. Oleh karena itu, mahasiswa dinilai perlu hadir memberikan dukungan dan pendampingan kepada korban diskriminasi.
“Sebagai mahasiswa kita harus dapat hadir untuk korban diskriminasi gender. Dengan cara, mendengarkan keluh kesah apa yang dia alami,” katanya.
Pada sesi terakhir, Felicia Hestiawan menyoroti tantangan yang masih dihadapi perempuan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), khususnya di dunia teknik.
“Sebagai perempuan dan mahasiswa teknik, tentunya mengalami tantangan yang besar. Sehingga perlu adanya keberanian, dukungan lingkungan, serta sistem yang lebih setara,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....