Abdul Kadir Karding: AI Bisa Cerdas, tapi Tak Bisa Menggantikan Integritas

  • 07 Agt 2026 08:38 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengajak mahasiswa baru Undip untuk memanfaatkan masa perkuliahan mengembangkan karakter, kepemimpinan, dan integritas.
  • Karding menekankan bahwa kecerdasan buatan tidak akan pernah mampu menggantikan nilai-nilai dasar yang dimiliki manusia meskipun berkembang sangat pesat.
  • Sebagai alumnus FPIK Undip dan Ketua IKA Undip, Karding mengungkapkan kebanggaannya dapat kembali ke kampus yang telah membentuk perjalanan hidupnya.

RRI.CO.ID, Semarang - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, mengajak ribuan mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) untuk menjadikan masa perkuliahan sebagai ruang menempa karakter, kepemimpinan, dan integritas. Menurutnya, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) boleh berkembang sangat pesat, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan nilai-nilai dasar yang dimiliki manusia.

Pesan itu disampaikan Karding saat menjadi pembicara dalam Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Diponegoro Tahun Akademik 2026/2027 di Gedung Muladi Dome, Kampus Undip, Semarang, Kamis 6 Agustus 2026. Di hadapan ribuan mahasiswa baru, alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip sekaligus Ketua Ikatan Alumni (IKA) Undip itu mengaku bangga dapat kembali ke kampus yang telah membentuk perjalanan hidupnya.

"Undip adalah tempat yang menempa saya, di kampus ini saya belajar kepemimpinan, membangun karakter, hingga akhirnya mendapat kesempatan mengabdi sebagai menteri dan kini dipercaya memimpin Badan Karantina Indonesia. Karena itu, saya yakin kalian tidak salah memilih Undip sebagai tempat belajar," ujar Karding.

Ia menilai dunia perkuliahan tidak sekadar tempat mengejar nilai akademik. Akan tetapi, laboratorium kepemimpinan yang membentuk kemampuan berpikir, tanggung jawab, dan integritas.

Menurut Karding, perkembangan AI memang menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan. Namun, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menciptakan kejujuran, etika, maupun komitmen terhadap bangsa.

"AI boleh semakin pintar, tetapi tidak akan pernah bisa menggantikan integritas. Kejujuran, moralitas, dan tanggung jawab adalah kualitas yang hanya dapat dibangun oleh manusia, di situlah tantangan terbesar generasi muda di era digital," katanya.

Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah tidak hanya dengan belajar di ruang kelas, tetapi juga aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, pengalaman berorganisasi akan melatih kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan, serta memimpin, yang menjadi bekal penting menghadapi tantangan masa depan.

Karding mengatakan Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Ia mengapresiasi komitmen Universitas Diponegoro di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Suharnomo yang mengembangkan konsep lulusan COMPLETE, yakni Communicator, Professional, Leader, Entrepreneur, Thinker, dan Educator.

Menurutnya, konsep tersebut selaras dengan slogan Undip "Bermartabat dan Bermanfaat". Konsep ini menekankan pentingnya menjunjung tinggi etika, kemajuan ilmu pengetahuan, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berkarakter, memiliki integritas, dan mampu memberi manfaat bagi orang lain. Saya berharap dari kampus ini akan lahir pemimpin-pemimpin Indonesia yang membawa bangsa menuju Indonesia Emas 2045," ujar Karding.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....