Singkong Bisa Jadi Es Krim, Gubernur Minta UMKM Jateng Berani Berinovasi
- 02 Okt 2026 08:36 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Singkong yang selama ini dikenal sebagai pangan sederhana ternyata bisa menjelma menjadi produk bernilai tinggi, mulai dari tepung mocaf hingga es krim. Transformasi tersebut menjadi contoh jika pangan lokal Jawa Tengah mampu disulap menjadi peluang ekonomi baru melalui inovasi.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan, potensi pangan lokal tidak boleh berhenti sebagai komoditas mentah. Menurutnya, pengolahan menjadi produk turunan akan membuka pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang dinikmati masyarakat.
“Pangan lokal tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga bagaimana bahan baku yang ada di daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan peluang usaha, dan membuka pasar yang lebih luas,” kata Luthfi saat menghadiri Final Showcase Lumbung Karya Indonesia di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis 1 Oktober 2026.
Luthfi menilai Jawa Tengah memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis pangan lokal. Selain kaya komoditas, provinsi ini juga memiliki sekitar 4,06 juta UMKM berdasarkan pendataan Sistem Informasi Data Tunggal Kementerian UMKM 2025.
Dari jumlah tersebut, sekitar 97,95 persen merupakan usaha mikro yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Karena itu, UMKM didorong tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas melalui inovasi dan peningkatan kualitas produk.
“UMKM yang ada di Jawa Tengah harus bisa mengambil peluang tersebut. Pangan lokal jangan berhenti sebagai komoditas. Harus ada nilai tambah sehingga yang tumbuh bukan hanya produknya, tetapi juga usahanya, lapangan kerjanya, dan ekonomi daerahnya,” ujarnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Pemprov Jawa Tengah terus melakukan pendampingan dan pembinaan kepada pelaku usaha. Dukungan pembiayaan juga diberikan melalui Bank Jateng dengan skema kredit berbunga rendah agar UMKM dapat memperluas kapasitas produksinya.
Luthfi menegaskan penguatan UMKM membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Salah satunya melalui program Lumbung Karya Indonesia yang mengkurasi dan mendampingi pelaku usaha agar produknya semakin kompetitif.
“Saya mengapresiasi Lumbung Karya Indonesia karena merupakan salah satu kesempatan emas bagi seluruh masyarakat dan pelaku usaha untuk menampilkan karya dan inovasi produk yang memiliki nilai tambah. Kalau bisa event seperti ini dilakukan setiap bulan,” katanya.
Potensi besar pengolahan pangan lokal terlihat dari Nirbaya Mocaf, salah satu penerima penghargaan dalam ajang tersebut. UMKM binaan Lapas Nirbaya Nusakambangan, Cilacap, itu berhasil mengolah singkong menjadi beragam produk bernilai jual tinggi.
Singkong yang berasal dari Cilacap dan sekitarnya diolah menjadi tepung mocaf, lalu dikembangkan menjadi es krim dengan sekitar 80 persen bahan bakunya berasal dari singkong. Kulit singkong juga diolah menjadi gula untuk bahan kombucha sedangkan ampasnya digunakan sebagai pakan ayam.
“Semua bahan singkong kami ambil dari wilayah Cilacap dan sekitarnya, termasuk dari kebun singkong yang ditanam sendiri oleh warga binaan. Kami membeli dengan harga sesuai yang ditetapkan pemerintah,” kata Kalapas Nirbaya Nusakambangan, Helmi Najih.
Staf Ahli Bidang Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Santoso, mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan. “Di sini ada sinergi banyak hal, dari hulu sampai hilir, kami senang hadir ke sini untuk berkolaborasi karena dalam Lumbung Karya Indonesia ini ada startup, ekonomi kreatif subsektor kuliner, dan UMKM,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....