Komisi VII Dorong Jateng Perkuat Simpul Industri Hingga Pariwisata
- 20 Feb 2026 11:14 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Komisi VII DPR RI mendorong Jawa Tengah memperkuat simpul pengembangan industri dan pariwisata sebagai motor pertumbuhan nasional. Dorongan itu disampaikan dalam kunjungan kerja reses yang dipimpin Ketua Tim Rahayu Saraswati bersama jajaran anggota lintas fraksi di Kantor Gubernur Jateng, Jumat, 20 Februari 2026.
Rahayu menegaskan, Jawa Tengah memiliki posisi strategis sebagai pusat manufaktur sekaligus destinasi wisata unggulan nasional. Menurutnya, penguatan konektivitas dan integrasi sektor tersebut menjadi kunci agar berdampak langsung pada geliat UMKM dan ekonomi kreatif lokal.
Komisi VII juga menyoroti kesiapan infrastruktur kawasan industri di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Kawasan Industri Kendal. Integrasi rantai pasok industri besar dengan Induatri Kecil dan Menengah (IKM) lokal dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi lebih inklusif.
"Kami ingin memastikan sejauh mana kesiapan infrastruktur utilitas seperti pasokan gas dan listrik, serta bagaimana strategi pemerintah daerah dalam mengintegrasikan industri besar di KITB dan KIK. Dengan rantai pasok IKM lokal agar memberikan dampak ekonomi yang inklusif," katanya.
Di sektor pariwisata, pengembangan kawasan penyangga Candi Borobudur menjadi perhatian serius. Komisi VII meminta penataan desa wisata lebih selektif dan berbasis standar agar lebih berkualitas.
"Ini mohon dicatat juga untuk persoalan Desa Pariwisata, kami menegaskan harus adanya kenaikan kelas, tapi juga difilter. Jangan sampai ada 1.600 desa wisata diberikan nama oleh bupati maupun wali kotanya tetapi sebenarnya tidak memenuhi semua syarat, jadi perlu dipastikan kembali (kelayakannya disebut desa wisata)," ujarnya.
Dalam reses itu, isu perlindungan hak kekayaan intelektual bagi pelaku ekonomi kreatif, serta kemudahan akses pembiayaan UMKM juga menjadi pembahasan utama. Komisi VII menegaskan kredit hingga Rp100 juta melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) semestinya tanpa agunan, agar pelaku usaha kecil benar-benar dapat naik kelas.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menyambut dorongan tersebut dengan memaparkan capaian investasi yang telah menembus Rp88,7 triliun. Ia menegaskan strategi daerah bertumpu pada industri padat karya, penguatan vokasi, serta percepatan perizinan untuk menarik investasi baru.
"Jawa Tengah sejatinya tidak kurang terkait dengan lapangan kerja, yang kurang adalah bagaimana sumber daya manusia siap pakai kepada industri-industri di tempat kita. Sehingga kesempatan kerja padat karya yang sudah mendekati angka 420.000 bisa tertampung, bukan berarti Jawa Tengah anti padat modal tetapi kita memprioritaskan padat karya," ucapnya.
Menurut Luthfi, Jawa Tengah tidak bisa hanya mengandalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan APBD sehingga investasi menjadi pengungkit utama pertumbuhan. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,37 persen atau di atas rata-rata nasional.
Di sisi lain, Pemprov juga mengembangkan seribu desa wisata dan mendorong pariwisata ramah muslim berbasis sejarah serta budaya lokal. Sinergi industri, UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata diharapkan menjadikan Jawa Tengah simpul pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....