Baru Dibuka, Central Java Investment Forum 2026 Raup Minat Investasi Rp16 Triliun

  • 12 Mei 2026 09:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Baru sehari dibuka, gelaran Central Java Investment & Business Forum (CJIBF) 2026 langsung mengantongi minat investasi senilai Rp16 triliun dari 40 letter of intent (LOI) atau nota minat investasi. Capaian tersebut diperoleh dari rangkaian one on one meeting antara calon investor dengan pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, serta pelaku usaha.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari mengatakan, 40 kepeminatan investasi itu berasal dari pembahasan 21 proyek yang ditawarkan kepada calon investor. Sebanyak 17 proyek mencakup sektor renewable energy, pertanian dan hilirisasi pangan, pariwisata hingga pertambangan, ditambah empat kawasan industri utama di Jawa Tengah.

Empat kawasan industri yang ditawarkan meliputi Kendal Special Economic Zone, Industropolis Batang Special Economic Zone, Wijayakusuma Industrial Park, dan Jatengland Industrial Park Sayung. Seluruh kepeminatan investasi tersebut akan terus dikawal agar dapat berujung pada realisasi investasi nyata.

“Tentunya ini menjadi tugas dari DPMPTSP untuk mengawal. Kepeminatan yang kemudian sudah tanda tangan letter of intent ini kita kawal untuk betul-betul menjadi realisasi investasi,” katanya di sela mendampingi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi dalam Gala Dinner Rapat Kerja Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD MPU) di Hotel Tentrem, Kota Semarang, Senin, 11 Mei 2026.

Sakina menyebut, antusiasme investor terlihat pada seluruh sektor yang ditawarkan dalam forum tersebut. Baik investor dalam negeri maupun luar negeri menunjukkan komitmen awal untuk menjajaki kerja sama bisnis dan investasi di Jawa Tengah.

Minat investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) banyak mengarah pada sektor industri manufaktur, biomassa, geothermal, industri garam, serta mocaf dan hilirisasi produk pertanian. Sementara, penanaman modal asing (PMA) datang dari sejumlah negara seperti Thailand, China, dan India.

“Ada penanaman modal asing (PMA) dan ada penanaman modal dalam negeri (PMDN). PMA yang saya tahu ada dari Thailand, China, dan India. Kepeminatan itu kami kawal terus, biasanya juga butuh waktu 1-2 tahun, realisasi itu tergantung pada negaranya (asal investor) untuk melakukan kajian,” katanya.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, CJIBF merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah untuk mempromosikan potensi investasi daerah. Forum ini mempertemukan investor domestik dan mancanegara dengan pemerintah, mitra pemerintah, hingga pengelola kawasan industri.

Luthfi menegaskan sektor investasi menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Jawa Tengah. Tingginya investasi disebut turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2026 sebesar 5,89 persen.

Ia menyebut, angka tersebut melampaui rata-rata nasional sebesar 5,61 persen. “Artinya untuk meningkatkan ekonomi di wilayah kita perlu adanya forum-forum seperti ini,” ujarnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, optimis gelaran CJIBF tahun ini akan melampaui dari tahun sebelumnya. Pada 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp110 triliun.

"Tapi kita tidak berhenti di sini (CJIBF), dalam perkembangannya nanti kita akan coba bawa iPro yang ada di Jawa Tengah ini untuk juga kita promosikan di luar negeri. Kita ada beberapa kantor perwakilan yang siap untuk mempromosikan di luar negeri," ujarnya.

Selain promosi investasi, Bank Indonesia juga akan memberikan dukungan dari sisi kajian ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Program beasiswa keterampilan menjadi salah satu fokus yang akan diperkuat pada tahun ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....