Jelajah Pantura Ungkap Besarnya Potensi Garam Jateng
- 07 Okt 2025 22:12 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Potensi industri garam Jawa Tengah sangat besar. Hal itu terungkap dari hasil Jelajah Potensi Garam Pantura Jawa Tengah yang dilakukan anggota DPD RI Abdul Kholik bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, Selasa (7/10/2025).
Jelajah dilakukan dengan mengunjungi sentra industri garam di Koperasi Produsen Mutiara Laut Mandiri (Pati), Koperasi Tani Sari Makmur (Rembang), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) dan Koperasi Garam Laut Wedung (Demak). Dalam jelajah ini, para petani garam menyampaikan potensi dan tantangannya dalam meningkatkan produksi dan kualitas garam.
Abdul Kholik mengatakan, potensi ini akan menjadi salah satu sumber kemandirian ekonomi Jawa Tengah, terutama di sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Potensi garamnya bisa sampai satu juta produksi bahan garamnya dan kebutuhan untuk pemenuhan garam yang akan diswasembadakan sampai 2027, ada 3,6 juta ton garam,” katanya di Kantor Sekretariat DPD RI Jawa Tengah.
Jika Jawa Tengah mampu memenuhi itu, kata Abdul Kholik, nilai ekonominya bisa mencapai Rp 2 triliun putarannya, dan keuntungannya bisa mencapai Rp 800 miliar hingga Rp1 triliun. “Makanya kita mendorong pemerintah provinsi Jawa Tengah fokus untuk mengembangkan sektor garam ini sebagai industri andalan Jawa Tengah,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, aspirasi dari para petani garam ini akan menjadi dasar untuk mendorong pemerintah provinsi Jawa Tengah, untuk penanganan problematika di sektor hulu hingga kesulitan para petambak. “Pada level kebijakan nasional, kita akan terus mendorong agar pemerintah konsisten untuk tidak import garam dan menuju swasembada garam dan memperkuat garam rakyat ini,” ungkapnya.
Baca juga: DPD RI Serap Aspirasi Petani Garam di Pati
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah Endi Gaiz Effendi mengatakan, terdapat sembilan sentra industri garam di Jawa Tengah, antara lain Brebes, Demak, Jepara, Pati, Rembang, Cilacap, Kebumen, Purworejo dan Grobogan. Menurutnya kebutuhan garam di Jawa Tengah sebesar 119.400 ton yang terdiri dari 86.400 ton garam industri dan 33.000 ton garam konsumsi.
“Antara kebutuhan dengan ketersediaan itu masih sangat jauh,” jelasnya. Ia mengungkapkan permasalahan yang dihadapi petani garam ini luar biasa, mulai dari hulu yang sangat terbatas hingga hilir.
“Kualitas garamnya masih rendah, (kandungan NACL) masih di bawah 94%, kandungan (NACL) industri di atas 97%. Perlu menggunakan teknologi seperti geomembran untuk mempercepat proses pengeringan garam itu, yang biasa bisa satu minggu, dengan teknologi ini bisa 2 hari,” jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....