Kemarau di Jateng Tahun Ini Lebih Kering, Risiko Karhutla Meningkat
- 30 Jul 2026 16:15 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID., Semarang - Stasiun Meteorologi Jenderal Ahmad Yani Semarang memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Tengah akan terjadi pada Agustus 2026. Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih kering dan berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normal sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Senior Forecaster Stasiun Meteorologi Jenderal Ahmad Yani Semarang, Gempita Icky Dzikrillah, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh menguatnya fenomena El Nino hingga akhir tahun serta dominasi angin muson Australia yang membawa massa udara kering melintasi wilayah Indonesia. Kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan sebagian besar wilayah Jawa Tengah mengalami kondisi yang lebih kering.
"Musim kemarau tahun 2026 ini berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah dan bisa berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan fenomena El Nino yang menguat serta dominasi angin muson Australia yang membawa massa udara kering," ujarnya kepada RRI, Kamis, 30 Juli 2026.

Ia menjelaskan, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat ketika curah hujan sangat rendah dalam waktu yang lama sehingga vegetasi menjadi kering. Kondisi tersebut diperparah oleh kelembapan udara yang rendah, suhu udara yang lebih tinggi, serta hembusan angin yang cukup kencang sehingga api lebih mudah menyebar apabila terjadi kebakaran.
BMKG juga memanfaatkan produk Fine Fuel Moisture Code (FFMC) untuk memetakan tingkat kemudahan terbakar lapisan permukaan tanah. Berdasarkan pembaruan data terkini, sebagian besar wilayah Jawa Tengah berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar, terutama kawasan Pantai Utara, Pantai Selatan, Grobogan, Blora, Pantura Timur, dan sebagian besar Solo Raya.
"Untuk BMKG sendiri memang kita juga ada satu produk ya namanya itu Fine Fuel Moisture Code atau peta tingkat kemudahan terbakar di di lapisan atas permukaan tanah. Jadi, nanti di situ ada indeks-indeksnya, wilayah-wilayah mana saja yang mudah terbakar, jadi akan ada empat kategori yaitu kategori aman, tidak mudah, mudah terbakar dan sangat mudah terbakar," katanya.
Ia menambahkan, hujan memang dapat menurunkan risiko kebakaran apabila mampu membasahi vegetasi yang telah mengering. Namun, hujan dengan durasi singkat atau hanya bersifat lokal belum tentu cukup untuk mengurangi potensi kebakaran sehingga upaya pencegahan oleh masyarakat tetap menjadi faktor utama.
BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, tidak membuang puntung rokok di area bervegetasi kering, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Masyarakat juga diminta rutin memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan kondisi iklim melalui kanal resmi BMKG sebagai dasar dalam meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau.(imm)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....