Festival Balon Tambat Pekalongan Jadi Atraksi Budaya Ramah Penerbangan

  • 30 Mar 2026 12:27 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • tradisi balon udara
  • Pengamat Budaya
  • Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI), Alvin Lie

RRI.CO.ID, Pekalongan – Tradisi menerbangkan balon udara yang menjadi bagian dari perayaan masyarakat kini mengalami perubahan signifikan. Melalui Festival Balon Tambat Pekalongan, tradisi tersebut tidak hanya tetap lestari, tetapi juga bertransformasi menjadi atraksi budaya yang aman dan ramah terhadap keselamatan penerbangan.

Pakar penerbangan sekaligus Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI), Alvin Lie, menilai kesadaran masyarakat Kota Pekalongan dalam menjaga keselamatan penerbangan terus meningkat. Hal ini terlihat dari berkurangnya praktik balon udara liar dan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam festival balon yang lebih tertib dan terkontrol.

“Balon yang dilepas tanpa kendali sulit diprediksi arah dan ketinggiannya. Bahkan, laporan pilot menunjukkan balon bisa mencapai ketinggian ekstrem,” ujar Alvin saat menghadiri Festival Balon Tambat Pekalongan 2026 di Stadion Hoegeng, Sabtu 28 Maret 2026.

Menurutnya, balon liar yang terbang tanpa kendali berpotensi menimbulkan risiko serius jika bertabrakan dengan pesawat. Dampaknya tidak hanya merusak struktur pesawat, tetapi juga bisa menyebabkan hilangnya kendali yang berujung pada kecelakaan fatal.

“Kalau sampai mengenai bagian penting pesawat, risikonya sangat besar. Setiap penerbangan membawa nyawa manusia, sehingga potensi sekecil apa pun harus dihindari,” tegasnya.

Meski demikian, Alvin mengapresiasi perubahan positif dalam pelaksanaan Festival Balon Pekalongan. Ia menilai festival ini berhasil mengubah pola masyarakat dalam melestarikan tradisi, dari yang sebelumnya menerbangkan balon secara liar menjadi lebih aman melalui sistem balon yang ditambatkan atau diikat.

Transformasi tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam menekan risiko terhadap keselamatan penerbangan. “Melestarikan tradisi tidak harus dengan membahayakan,” ujarnya.

Kesadaran kolektif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan keselamatan publik, baik bagi masyarakat di darat maupun pengguna transportasi udara.

Selain itu, Festival Balon Tambat Pekalongan juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Kehadiran ribuan pengunjung membuka peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk meningkatkan pendapatan. Berbagai produk kuliner, kerajinan, hingga suvenir khas daerah turut meramaikan gelaran tersebut.

Festival ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menghadirkan nilai tambah yang tidak didapat dari praktik balon liar. Jika balon dilepas secara bebas, manfaatnya cenderung terbatas dan berisiko. Sebaliknya, festival mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, sekaligus budaya secara berkelanjutan.

“Kalau dilepas, selesai begitu saja. Tapi festival memberi manfaat lebih luas,” jelas Alvin.

Ia juga menekankan, konsistensi dalam menekan praktik balon liar melalui edukasi dan pengawasan tetap menjadi hal yang penting. Dengan upaya tersebut, tradisi menerbangkan balon udara diharapkan tetap lestari sebagai warisan budaya, tanpa mengesampingkan aspek keselamatan penerbangan yang menjadi prioritas utama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....