Sabet Juara, SMP 1 Jati Kudus Angkat Tradisi lewat Tari Gebyar Dandangan
- 15 Sep 2026 15:01 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus - Tradisi lokal Kabupaten Kudus diangkat SMP 1 Jati Kudus melalui karya seni tari bertajuk Tari Gebyar Dandangan. Karya tersebut tidak hanya ditampilkan dalam Pesta Rakyat Kabupaten Kudus 2026, tetapi juga membawa sekolah tersebut meraih juara dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional(FLS3N) 2026.
Guru Seni Budaya SMP 1 Jati Kudus, Tania Artpriend Novadella, mengatakan Tari Gebyar Dandangan merupakan karya sekolah yang diciptakan dengan mengangkat tradisi lokal Kudus. Proses penciptaannya dilakukan melalui penelusuran sejarah dan penggalian informasi mengenai tradisi Dandangan.
“Kalau untuk pembuatannya memang lama, lebih dari satu bulan. Akan tetapi, ketika akan ditampilkan dalam kegiatan ini, kami ringkas menjadi tiga menit,” ujar Tania, Selasa, 15 September 2026.
Menurut Tania, versi asli Tari Gebyar Dandangan memiliki durasi sekitar enam menit. Namun, penampilan dalam Pesta Rakyat memperingati Hari Jadi Kota Kudus ke-477 dibatasi maksimal tiga menit sehingga sejumlah gerakan harus disederhanakan.
Meski demikian, pemangkasan durasi tidak menghilangkan inti cerita dalam tarian. Tiga hal utama yang tetap dipertahankan yakni kegembiraan masyarakat Kudus menjelang tradisi Dandangan, doa dan ungkapan syukur sebelum tradisi dimulai, serta gambaran masyarakat yang kemudian kembali berdagang.
“Memang ada gerakan yang hilang karena harus diringkas. Poin-poin terpentingnya tetap kami ambil,” jelasnya.
| Baca juga: Klenteng Hok Hien Bio Kudus Gelar Kimsin |
Persiapan penampilan dalam Pesta Rakyat dilakukan sekitar dua minggu. Selain membentuk kepanitiaan, sekolah menyeleksi penari yang mayoritas berasal dari siswa kelas VII dan VIII, dengan beberapa siswa kelas IX turut dilibatkan.
Jumlah penari yang terlibat juga lebih banyak dibandingkan karya awal. Jika sebelumnya menggunakan personel lebih sedikit, kali ini Tari Gebyar Dandangan ditampilkan sekitar 40 penari sehingga gerakan harus disesuaikan dengan waktu persiapan yang terbatas.
“Kalau disamakan dengan lima personel dengan gerakan yang susah, sangat tidak memungkinkan untuk persiapan dua minggu. Jadi kami sederhanakan gerakannya, tetapi tidak meninggalkan khas-khas dari tradisi Gebyar Jendangan,” katanya.
Kepala SMP 1 Jati, Sumaryatun, mengatakan seluruh konsep tari, termasuk musik, dipercayakan kepada guru Seni Budaya. Sementara untuk kebutuhan karnaval dan visualisasi panggung, sekolah melibatkan tim lain karena membutuhkan properti serta berbagai elemen pendukung.
Sumaryatun menambahkan, sekolah juga berupaya memahami tradisi Dandangan secara lebih mendalam sebelum menuangkannya ke dalam karya seni. Penelusuran dilakukan melalui sumber tertulis maupun dengan bertanya kepada pihak yang memahami sejarah dan tradisi tersebut.
“Kita mengelusuri dulu sejarahnya seperti apa. Kita juga tanya-tanya, jadi tidak secara instan langsung jadi dan menghasilkan juara satu, memang ada prosesnya,” ungkapnya.
Bahkan, sebelum mengangkat tradisi tersebut dalam karya seni, pihak sekolah sempat sowan kepada juru kunci untuk meminta izin dan berdoa bersama. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya sekolah memahami dan menghormati tradisi yang menjadi sumber inspirasi karya.
Dari sisi visual, kostum para penari disesuaikan dengan konsep Tari Gebyar Dandangan. Nuansa hijau dipilih untuk menonjolkan kesan gebyar dan pesta rakyat, bukan sekadar menampilkan simbol-simbol keagamaan.
Melalui karya tersebut, SMP 1 Jati berharap tradisi lokal Kudus tidak hanya dikenal melalui kegiatan seremonial. Seni tari diharapkan menjadi salah satu cara bagi generasi muda untuk mengenal, memperkenalkan, sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....