Bijak Bermedia Sosial, Cara Generasi Muda Jaga Nasionalisme di Era Digital
- 14 Agt 2026 09:17 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa pengaruh besar terhadap kehidupan generasi muda. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan rasa cinta bangsa dan negara agar kemajuan teknologi tidak justru dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, maupun konten yang dapat memecah persatuan.
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Arya Setyo Novanto, S.H., M.H., mengatakan generasi muda perlu memiliki rasa bangga terhadap bangsa sendiri di tengah derasnya pengaruh budaya asing. Menurutnya, menjaga persatuan dan kesatuan membutuhkan kerja sama seluruh masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Arya dalam Dialog Bowo Raos di Studio Pro 1 RRI Semarang, Kamis 13 Agustus 2026 malam. Dialog yang dipandu Ketua Forum Komunikasi Pemerhati Paguyuban Pendengar dan Pemerhati RRI Semarang (FKP PAPPERRIS), F. Sumardiyono bersama R Soejarto tersebut mengangkat tema “Sinergi Mencintai Bangsa & Negara”.
Arya mengatakan, kemajuan teknologi digital membuat berbagai budaya luar masuk secara masif dan mudah diakses generasi muda. Ia tidak menolak perkembangan tersebut, namun meminta agar budaya asing tetap diselaraskan dengan budaya Indonesia.
“Kemajuan teknologi yang begitu pesat sangat besar pengaruhnya pada generasi muda sekarang, tidak sedikit generasi bangsa ini, lebih bangga dengan hal-hal yang berbau asing. Membangun semangat cinta bangsa dan negara, butuh kerjasama yang kuat dari semua rakyat Indonesia untuk merawat persatuan dan kesatuan, sehingga terwujudnya rasa bangga, tanggung jawab, dan rasa nasionalisme yang tinggi.” ujarnya.
Menurut Arya, masyarakat juga harus lebih kritis dalam menerima informasi yang beredar melalui media digital. Setiap berita perlu diperiksa kebenarannya sebelum dibagikan agar tidak menimbulkan keresahan dan membahayakan persatuan bangsa.
“Banyak teman-teman itu di saat melihat membaca berita yang judulnya apa, isinya apa langsung dipercaya. Ini harusnya kita sendiri yang memfilternya. Dicari dulu kebenarannya, baru di-share. Karena akan membahayakan bangsa kita sendiri.” katanya.
Ia menambahkan, penguatan nasionalisme juga dapat dilakukan melalui kegiatan sosial dan organisasi kepemudaan di lingkungan masyarakat. Menurutnya, keberadaan karang taruna dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan antargenerasi muda sekaligus menumbuhkan kembali semangat gotong royong.
“Contoh yang paling kecil saja di kampung yang namanya karang taruna sudah agak jarang. Padahal kalau dikumpulkan berorganisasi, akan saling mengenal, bergotong-royong, menjadi ciri khas.” ujarnya.
Arya menegaskan, pembangunan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, adil, dan makmur membutuhkan kerja sama seluruh pihak. Ia meminta generasi muda tidak mudah termakan hoaks maupun terprovokasi sehingga mudah diadu domba.
“Karena fondasi negara ini sedang diperbaiki, maka perlu kerja sama dengan semua pihak, diharapkan teman-teman pemuda tidak termakan berita-berita hoaks, supaya tidak mudah diadu domba. Mengutip apa yang disampaikan oleh Bung Karno, lebih mudah melawan penjajah daripada melawan bangsa sendiri.” tegasnya.
Sementara itu, R Soejarto menilai masih terdapat generasi muda yang peduli terhadap kondisi bangsa. Namun, ia mengingatkan kecenderungan memilih produk asing serta maraknya ujaran kebencian dapat melemahkan persatuan dan kesatuan nasional.
“Saya masih bangga karena masih ada generasi muda yang peduli dengan keadaan saat ini, tetapi juga banyak generasi muda yang lebih memilih produk-produk asing. Ujaran kebencian yang akan memecah belah bangsa kita akan melemahkan persatuan dan kesatuan nasional.,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....