Di Tengah Isu Blackout Listrik dan Kenaikan BBM, Tren PLTS Kian Diminati Industri
- 17 Jun 2026 20:23 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Di tengah isu potensi blackout (pemadaman) listrik di pulau Jawa, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan biaya energi fosil mendorong pelaku industri mencari alternatif yang lebih efisien untuk menekan pengeluaran operasional. Salah satu solusi yang kini semakin banyak dilirik adalah penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Kepala Pemodelan dan Analis Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR), Pintoko Aji menyebut animo industri dalam mengajukan PLTS saat ini sangat tinggi, bahkan hampir semua industri mengajukan transisi energi dari fosil ke tenaga surya. Kendati begitu, tidak semua industri mendapatkan persetujuan dari developer dan PLN dengan cepat.
"Ada yang bertahun-tahun enggak dapat-dapat (kuota PLTS). Ada juga, pabrik di Sragen, pabrik bata ringan itu, kayaknya cuma 6 bulan dapat," ujarnya di sela Workshop “Memahami Framework Teknis dan Implementasi PLTS untuk Mendukung Transisi Energi di Jawa Tengah” di Hotel Novotel Semarang, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurutnya, pemanfaatan PLTS menjadi salah satu opsi yang relevan dalam menghadapi ketidakpastian harga energi berbasis fosil tersebut. Energi surya menawarkan sumber listrik yang lebih stabil karena memanfaatkan sumber daya yang melimpah dan tidak bergantung pada harga bahan bakar.
Berdasarkan hasil pemetaan IESR, total potensi energi surya, angin, dan mini-hidro di provinsi Jawa Tengah mencapai 197,96 GWp. Ditambah dengan tingkat iradiasi matahari yang tinggi dan merata sepanjang tahun, PLTS sangat potensial untuk dikembangkan secara masif.
Apalagi, saat ini Pintoko menilai pemerintah sangat mendukung pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) "Sekarang kalau ngelihat diskursusnya udah ini udah pro lah, dari sisi moratorium juga sudah, apalagi kalau Pemda juga ikut bekerja sama, mereka all in lah,” katanya.
Area Manager Sun Energy, Arief Hendro mengungkapkan minat industri bertransisi dari energi fosil ke surya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, energi surya dinilai mampu membantu perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis bahan bakar fosil yang rentan terhadap fluktuasi harga.
“Banyak industri yang mulai beralih dan melirik PLTS sebagai alternatif pasokan energi. Dari pelanggan yang kami tangani, peningkatannya hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Arief menjelaskan kapasitas PLTS yang dipasang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing industri. Untuk sektor industri, pemasangan umumnya dimulai dari kapasitas sekitar 500 kilowatt peak (kWp) atau setengah megawatt.
"Jadi pemasangan PLTS memang fokusnya lebih ke industrial dan sewa tadi, ya. Sampai saat ini masih belum bergerak ke residensial (rumah tangga), lebih fokus ke industrial bahkan mungkin sekarang fokusnya energi karena terkait dengan blackout, kondisi perang dan lain-lain sehingga beralih," ucapnya.
Menurut dia, proses pengajuan pemasangan PLTS saat ini relatif mudah karena telah didukung sistem perizinan berbasis aplikasi. Kendala yang masih dihadapi lebih banyak berkaitan dengan ketersediaan kuota yang ditetapkan PLN di setiap wilayah.
"Izin PLN itu 1 tahun hanya 2 kali, kalau sekarang posisinya harus nunggu, misal dealnya di bulan Februari, berarti kita daftarnya harus nunggu di bulan Juli. Kalau memang misalnya belum dapat izin di periode itu pastinya akan dimasukkan di periode berikutnya," ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....