Berawal dari Penolakan, Komunitas Pelita Kini Kawal Toleransi di Semarang
- 22 Jun 2026 10:49 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Berawal dari penolakan kegiatan buka puasa bersama lintas agama pada 2016, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Kota Semarang lahir sebagai wadah yang menghubungkan berbagai komunitas lintas iman sekaligus mengawal kerukunan di tengah masyarakat. Kini, organisasi tersebut aktif menjadi penghubung dan advokat dalam berbagai isu toleransi di Kota Semarang.
Koordinator Pelita Kota Semarang, Setyawan Budy, mengatakan organisasi tersebut terbentuk setelah muncul peristiwa penolakan terhadap kegiatan buka puasa bersama yang akan dihadiri istri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid, pada Juni 2016. Menurutnya, kegiatan yang semula direncanakan berlangsung di halaman sebuah gereja akhirnya harus dipindahkan ke balai kelurahan akibat adanya penolakan dari kelompok tertentu.
"Akhirnya acara yang sedianya diadakan di halaman gereja dipindah ke balai kelurahan. Peristiwa ini menggugah teman-teman jejaring lintas iman di Kota Semarang untuk membuat sesuatu yang bisa menghubungkan organisasi atau komunitas lintas agama dan kepercayaan," ujarnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 16 Juni 2026.
Pria yang akrab disapa Wawan itu menilai Kota Semarang memiliki modal sosial yang kuat karena masyarakatnya terdiri dari beragam latar belakang etnis, agama, dan budaya yang hidup berdampingan. Menurutnya, keberagaman tersebut harus terus dijaga dan diperkuat agar tidak mudah terpecah oleh tindakan segelintir pihak yang berpotensi merusak harmoni yang telah terbangun.
"Persoalannya kadang ada oknum-oknum tertentu yang mencoba memecah dan merusak harmoni yang sudah terbentuk di masyarakat Kota Semarang. Tugas kita sebagai warga Kota Semarang adalah menguatkan toleransi, saling bertemu, berdialog, dan berkegiatan bersama," katanya.
Wawan berharap Semarang dapat terus menjadi contoh kota yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Ia menjelaskan, keberadaan organisasi yang memiliki perhatian terhadap isu toleransi sangat penting sebagai motor penggerak sekaligus penghubung berbagai kelompok masyarakat.
Menurutnya, Pelita beranggotakan individu dari beragam latar belakang yang memiliki kepedulian terhadap upaya menjaga kerukunan. Jaringan tersebut memudahkan koordinasi ketika muncul persoalan yang berkaitan dengan hubungan antarumat beragama.
"Kami sebelumnya sudah saling mengenal satu sama lain, tetapi belum terhubung. Ketika ada peristiwa intoleransi, kami kesulitan menentukan langkah advokasi karena belum memiliki jaringan yang kuat," ungkapnya.
Melalui jaringan yang kini telah terbentuk, Pelita berupaya memperkuat komunikasi lintas iman sekaligus menjadi ruang kolaborasi dalam menjaga keharmonisan sosial di Kota Semarang. Wawan menegaskan, upaya merawat toleransi tidak bisa dilakukan oleh satu kelompok saja, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar kerukunan yang telah terbangun dapat terus terjaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....