Hoaks saat Bencana Bisa Berbahaya, Generasi Muda Diminta Lebih Bijak
- 10 Jun 2026 11:25 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Penyebaran informasi yang tidak terverifikasi saat terjadi bencana berpotensi memicu kepanikan dan memperburuk keadaan. Oleh karena itu, generasi muda diminta lebih bijak dalam menyaring serta membagikan informasi kebencanaan di tengah derasnya arus informasi digital.
Anggota Relawan Gesit, Nadya Wana Putri, mengatakan masyarakat masih kerap terburu-buru menyebarkan pesan terkait bencana tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Padahal, informasi yang keliru dapat menimbulkan keresahan di tengah situasi darurat.
"Sekarang infonya nyebarnya cepat banget, kalau ada satu pesan masuk grup kita langsung kirim-kirim ke mana saja. Padahal info itu harus lebih disaring dulu, jadi mungkin yang terpenting banget buat kita cek informasi tentang bencana yang terjadi itu benar atau tidak," ujarnya dalam Program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut Nadya, kemampuan memilah informasi merupakan bagian dari mitigasi bencana yang dapat dilakukan siapa saja, termasuk generasi muda. Sikap kritis sebelum menyebarkan informasi dinilai penting untuk mencegah munculnya hoaks saat terjadi bencana.
Selain bijak bermedia, generasi muda juga didorong memahami langkah-langkah sederhana dalam menghadapi situasi darurat. Pemahaman dasar mengenai titik evakuasi maupun tindakan penyelamatan diri dapat menjadi bekal penting ketika bencana terjadi.
"Mungkin juga menurut aku kita nggak perlu langsung ngelakuin something yang besar, sesederhana kita tahu aja harus ngapain itu udah keren banget. Kita hafal coffee shop yang enak di mana, tapi kita belum tentu tahu titik kumpul evakuasi dalam keadaan darurat, makanya kita bisa mulai dari hal-hal kecil," katanya.
Sementara itu, Wiradanu Arsalan dari Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia(IMPI) Jateng-DIY menilai kesadaran generasi muda terhadap isu kebencanaan sebenarnya sudah cukup baik. Terutama, di daerah yang kerap terdampak bencana.
Menurut Alan, sapaan akrabnya, masyarakat di Kota Semarang cukup akrab dengan ancaman banjir dan rob yang hampir terjadi setiap tahun. Kondisi tersebut membuat generasi muda lebih memahami pentingnya mitigasi bencana.
"Harapannya banjir dan rob ini bisa selesai dengan cepat, bisa dihilangkan dengan segera. Untuk tanah longsor, karena memang kita hidupnya bukan di dataran tinggi seperti itu maka kita perlu kajian lebih lanjut tentang hal tersebut karena mitigasinya berbeda," katanya.
Ia menambahkan, pemahaman mengenai mitigasi perlu terus diperkuat agar generasi muda tidak hanya sadar akan potensi bencana tetapi juga mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi tersebut. Melalui literasi kebencanaan yang baik dan sikap bijak dalam menggunakan media digital, generasi muda diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan sekitarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....