Pakar Lingkungan Undip: Tidak Semua Sampah Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar
- 15 Jun 2026 12:54 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Pemanfaatan limbah plastik sebagai energi alternatif dinilai memiliki potensi yang menjanjikan. Namun, pakar lingkungan mengingatkan, tidak semua jenis sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bakar secara efektif dan ekonomis.
Pakar lingkungan Universitas Diponegoro, Bimastyaji Surya Ramadan mengatakan, masyarakat perlu memahami bahwa plastik terdiri dari berbagai jenis dengan karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, proses pemanfaatannya sebagai energi alternatif tidak bisa dilakukan secara sembarangan tanpa melalui pemilahan terlebih dahulu.
"Kita luruskan dulu bahwa plastik itu kan ada banyak jenisnya. Kalau plastiknya itu PET seperti botol bekas, sebetulnya enggak ekonomis," kata Bima dalam Dialog Semarang Menyapa RRI Semarang, Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Bima, jenis plastik yang lebih berpotensi diolah menjadi bahan bakar adalah plastik sekali pakai seperti kantong kresek dan styrofoam. Meski demikian, pemanfaatannya tetap harus memperhitungkan aspek biaya produksi agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
"Kalau untuk plastik-plastik sekali pakai seperti plastik kresek kemudian styrofoam, itu sebetulnya ada potensi. Cuma memang yang jadi masalah adalah biaya produksinya," ujarnya.
Bima menjelaskan, salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan dalam skala kecil adalah pirolisis. Melalui teknologi tersebut, sampah plastik dipanaskan dalam ruang tertutup sehingga menghasilkan uap yang kemudian dikondensasikan menjadi bahan bakar cair.
"Ada satu klaim, satu kilogram sampah plastik bisa menghasilkan satu liter minyak, itu sudah bisa setara dengan bensin Pertalite," katanya. Namun, ia menegaskan bahwa hasil tersebut hanya dapat diperoleh dari jenis plastik tertentu yang bersih dan telah dipilah sebelumnya.
Ia menambahkan, warna dan jenis plastik juga memengaruhi kualitas serta jumlah bahan bakar yang dihasilkan. Plastik kresek berwarna putih dinilai memberikan hasil yang berbeda dibandingkan plastik berwarna atau jenis plastik lainnya.
"Belum tentu satu kilogram itu jadi satu liter. Jadi ini tergantung jenis plastiknya," ujar Bima.
Di sisi lain, Bima mengingatkan agar upaya pemanfaatan sampah plastik menjadi energi tetap memperhatikan aspek lingkungan. Menurutnya, teknologi yang digunakan harus mampu mengendalikan emisi agar tidak menimbulkan pencemaran baru.
Ia menjelaskan pembakaran sampah yang tidak memenuhi standar berisiko menimbulkan polusi."Kalau tidak dikontrol, yang terjadi adalah dioksin, black carbon, dan partikulat yang sangat rentan sekali muncul," ujarnya.
Bima menilai, pemanfaatan limbah plastik sebagai energi alternatif perlu diiringi edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Selain meningkatkan efektivitas pengolahan, langkah tersebut juga dapat mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Menurutnya, inovasi pengolahan sampah plastik menjadi energi tetap layak dikembangkan sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah di masa depan. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada ketepatan teknologi, pengelolaan yang berkelanjutan, serta kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sesuai jenisnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....