Sampahku Tanggung Jawabku, Pakar Undip Dorong Warga Kelola Sampah dari Rumah
- 13 Agt 2026 11:50 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, termasuk lingkungan pemukiman yang memerlukan solusi berkelanjutan.
- Upaya kebersihan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan pada momen kerja bakti, tetapi memerlukan perubahan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
- Prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) merupakan langkah yang dapat diterapkan untuk mengatasi persoalan sampah di tingkat pemukiman.
RRI.CO.ID, Semarang - Pengelolaan sampah dinilai tidak cukup hanya mengandalkan petugas kebersihan, tetapi harus dimulai dari kesadaran setiap orang di rumah. Pakar Departemen Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro (Undip), Dr. Ling. Ir. Sri Sumiyati, S.T., M.Si., IPM., ASEAN Eng., mengajak masyarakat menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle(3R) dan membangun kebiasaan “sampahku tanggung jawabku”.
Menurut Sri Sumiyati, rumah tangga menjadi titik awal penting dalam pengelolaan sampah karena sampah pertama kali dihasilkan dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, kebiasaan memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah perlu dibangun secara konsisten.
Ia menilai masyarakat perlu mengubah cara pandang bahwa persoalan sampah hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan. Setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan, mulai dari mengurangi, menggunakan kembali, hingga mengolahnya.
“Pengelolaan sampah sebaiknya dimulai dari rumah tangga. Memilah sampah dari sumber pertama merupakan prinsip dasar dalam pengelolaan sampah yang efektif,” ucapnya.
Menurutnya, prinsip 3R dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana. Dari ketiganya, reduce atau mengurangi timbulan sampah menjadi langkah pertama yang paling penting.
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, terutama plastik sekali pakai. Masyarakat dapat membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum isi ulang, serta membawa wadah makanan ketika membeli makanan di luar rumah.
Setelah mengurangi sampah, masyarakat dapat menerapkan prinsip reuse atau menggunakan kembali barang yang masih layak pakai. Botol bekas misalnya, dapat dimanfaatkan menjadi pot tanaman, sedangkan wadah yang masih berfungsi dapat digunakan kembali untuk berbagai keperluan.
Dengan memperpanjang masa pakai barang, jumlah sampah yang dihasilkan dapat ditekan. Kebiasaan tersebut juga membantu mengurangi konsumsi barang baru yang berpotensi menambah timbulan sampah.
Sementara itu, prinsip recycle dilakukan dengan mendaur ulang sampah menjadi produk baru yang memiliki nilai guna. Sampah plastik dapat diolah menjadi berbagai kerajinan, sedangkan sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos.
Menurut Sri Sumiyati, kegiatan daur ulang tidak hanya membantu mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Jika dikelola dengan baik, sampah juga dapat memberikan nilai ekonomi dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Ia menegaskan penerapan 3R membutuhkan dukungan seluruh unsur pentahelix, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memperkuat edukasi sekaligus membangun kesadaran bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
Dengan kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dari rumah, persoalan sampah di lingkungan permukiman diharapkan dapat ditekan. Kepedulian tersebut juga menjadi bentuk tanggung jawab masyarakat untuk menjaga lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....