Green Processing Dorong UMKM Kurangi Sampah dan Tingkatkan Nilai Produk

  • 24 Jul 2026 12:46 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID., Semarang - Penerapan green processing atau pengolahan pangan ramah lingkungan dinilai menjadi salah satu langkah nyata dalam mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya. Konsep ini juga mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memberikan nilai tambah bagi produk pangan, khususnya yang dihasilkan pelaku UMKM.

Guru Besar Bidang Rekayasa Proses Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Soegijapranata Catholic University(SCU), Prof. Victoria Kristina Ananingsih, menjelaskan, green processing merupakan proses produksi pangan yang dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penerapannya mencakup penggunaan energi yang lebih efisien, pemanfaatan bahan baku secara optimal, penggunaan teknologi ramah lingkungan, hingga pengurangan dan pemanfaatan kembali limbah produksi.

"Di Jawa Tengah sendiri khususnya itu sekarang mulai meningkat perhatian, baik itu industri pangan maupun UMKM. Kami mendampingi pengolahan ikan menggunakan teknologi pengering tenaga surya, kemudian UMKM olahan buah parijoto yang memanfaatkan ampas buah menjadi produk olahan lain dan pupuk," ujarnya Kamis, 23 Juli 2026.

Ia menambahkan, penerapan green processing juga memberikan manfaat ekonomi karena mampu menekan biaya produksi melalui penggunaan bahan baku lokal, teknologi yang lebih hemat energi, serta kemasan yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, produk yang diproses secara berkelanjutan memiliki daya tarik lebih di mata konsumen yang semakin peduli terhadap isu lingkungan.

Meski demikian, Prof. Kristina mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam penerapan green processing, terutama terbatasnya pengetahuan pelaku UMKM mengenai teknologi ramah lingkungan dan pengelolaan limbah. Menurutnya, dukungan pemerintah, perguruan tinggi, hingga sektor industri melalui program tanggung jawab sosial diperlukan agar pelaku usaha semakin mampu mengadopsi konsep tersebut.

Ia juga mencontohkan pengalaman pendampingan terhadap UMKM gula aren di Kabupaten Kendal, yang sempat kembali menggunakan bahan tambahan non-food grade karena dinilai lebih mudah diperoleh. "Masyarakat itu memang harus terus-menerus didampingi, ada beberapa UMKM kembali menggunakan bahan gamping karena merasa lebih mudah didapatkan, padahal penggunaan bahan food grade jauh lebih aman bagi konsumen," katanya.

Selain diterapkan di sektor usaha, Prof. Kristina menilai konsep green processing juga dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui penghematan energi, pemanfaatan bahan pangan lokal, pengurangan sampah plastik, serta penerapan prinsip zero waste. Limbah organik rumah tangga maupun sisa pengolahan pangan masih dapat dimanfaatkan menjadi produk lain maupun pupuk organik sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah.

Prof. Kristina berharap masyarakat mulai menerapkan kebiasaan sederhana yang mendukung pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Menurutnya, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh banyak orang akan memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan bagi generasi mendatang.(imm)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....