Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, Mitigasi Dini Libatkan Peran Masyarakat Desa

  • 24 Apr 2026 12:36 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Peningkatan aktivitas Gunung Slamet mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat mitigasi dini berbasis masyarakat. Peran desa menjadi kunci utama dalam upaya penyelamatan warga di kawasan rawan bencana.

Langkah tersebut ditegaskan dalam sosialisasi mitigasi bencana geologi gunung api yang digelar di Banyumas, Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapsiagaan seluruh pihak, terutama di tingkat desa.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG), P. Hadi Wijaya, mengungkapkan adanya peningkatan signifikan aktivitas vulkanik. Suhu kawah tercatat naik dari sekitar 280 derajat Celsius menjadi 460 derajat Celsius.

"Selain itu, aktivitas kegempaan, khususnya gempa frekuensi rendah, juga meningkat. Ini mengindikasikan pergerakan magma ke permukaan,” ucapnya.

PVMBG pun meningkatkan radius bahaya dari 2 kilometer menjadi 3 kilometer dari kawah. Meski demikian, status gunung masih berada pada Level II atau waspada.

Hadi menegaskan bahwa keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Setiap perkembangan aktivitas akan terus dipantau untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan peningkatan status.

Dengan dukungan sistem pemantauan modern seperti CCTV dan alat seismik, aktivitas gunung diharapkan dapat terdeteksi secara cepat. “Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan risiko, dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama di tengah potensi bencana,” ujarnya.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menekankan pentingnya kesiapan di lapangan. Menurutnya, desa merupakan garda terdepan dalam merespons potensi bencana.

"Desa harus siap karena mereka yang pertama merespons. Semua pihak harus terlibat sebagai subjek, bukan hanya objek dalam penanggulangan bencana,” tegasnya.

Ia menyebut, mitigasi tidak cukup hanya berbasis data, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Fokus utamanya adalah menyelamatkan masyarakat sedini mungkin saat terjadi kondisi darurat.

Menurutnya, Pemprov Jateng telah memiliki rencana kontinjensi Gunung Slamet sejak 2021. Dokumen tersebut terus diperbarui menyesuaikan perkembangan aktivitas gunung dan dinamika wilayah terdampak.

"Tujuannya satu, bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat jika terjadi erupsi. Dari pemahaman kondisi gunung, kita bisa menentukan langkah yang tepat,” ujarnya.

Untuk diketahui, sosialisasi ini diikuti BPBD dari lima kabupaten di sekitar Gunung Slamet. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal memperkuat koordinasi dalam menghadapi potensi bencana.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....