Musim Kemarau 2026 di Jateng Punya Karakter Berbeda, Ini Penjelasan BMKG
- 21 Jul 2026 17:05 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang mengungkapkan musim kemarau 2026 di Jawa Tengah memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kondisi normal. Selain datang lebih awal, musim kemarau tahun ini ditandai dengan berkurangnya curah hujan secara bertahap dan meningkatnya jumlah hari tanpa hujan.
Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Farita Rachmawati, mengatakan secara umum musim kemarau tahun ini akan didominasi kondisi cuaca yang lebih kering. Meski demikian, karakteristik kemarau tidak berlangsung sama di seluruh wilayah Jawa Tengah karena masih dipengaruhi faktor cuaca berskala lokal maupun regional.
"Musim kemarau tahun 2026 untuk wilayah Jawa Tengah memang lebih awal dibandingkan kondisi normalnya. Secara umum musim kemarau tahun ini ditandai dengan berkurangnya curah hujan secara bertahap dan meningkatnya hari tanpa hujan atau kondisi kering," kata Farita dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Senin, 20 Juli 2026.
Menurut Farita, masyarakat tidak perlu menganggap seluruh wilayah Jawa Tengah akan mengalami cuaca kering secara bersamaan. Sebab, di beberapa daerah masih terdapat peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akibat pengaruh kondisi atmosfer setempat.
"Masih ada beberapa wilayah di Jawa Tengah yang berpeluang mengalami hujan dengan intensitas ringan maupun sedang karena faktor-faktor skala lokal maupun regional. Oleh karena itu masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi cuaca terkini dari BMKG," ujarnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat di kawasan hutan, lahan kering, dan pegunungan untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Di Jawa Tengah, wilayah bagian utara dan timur menjadi daerah yang memiliki potensi lebih tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan sehingga perlu mendapat perhatian khusus.
Farita menjelaskan, selain faktor cuaca, aktivitas manusia masih menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah di area terbuka tanpa pengawasan, hingga membuang puntung rokok sembarangan menjadi aktivitas yang harus dihindari selama musim kemarau.
Untuk memantau perkembangan musim kemarau, BMKG secara rutin mengamati berbagai parameter meteorologi, mulai dari curah hujan, hari tanpa hujan, suhu dan kelembapan udara, kecepatan serta arah angin, kondisi atmosfer, hingga sebaran titik panas (hotspot). Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar penyusunan informasi cuaca, iklim, dan peringatan dini yang dimanfaatkan pemerintah dalam langkah mitigasi.
Farita menambahkan, informasi BMKG juga menjadi acuan pemerintah daerah dalam menentukan berbagai langkah antisipasi. Di antaranya dengan meningkatkan patroli di kawasan rawan kebakaran, menyiapkan sumber air, memperkuat koordinasi lintas instansi, hingga mengedukasi masyarakat sebelum risiko bencana meningkat.
Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan informasi resmi BMKG sebagai pedoman dalam beraktivitas selama musim kemarau. "Serta selalu memantau informasi resmi BMKG mengenai prakiraan cuaca dan peringatan dini agar risiko kebakaran hutan dan lahan maupun dampak musim kemarau dapat diminimalkan," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....