Bank Sampah Kewalahan Kelola Limbah Makan Bergizi Gratis
- 12 Feb 2026 15:28 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Sampah sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai membebani pengelola bank sampah di sejumlah daerah. Banyak limbah makanan dibungkus plastik sehingga menyulitkan proses pemilahan dan pengolahan.
Hal ini kemukakan Pakar Lingkungan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang , Sri Sumiati saat Lokakarya yang diselenggarakan Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari). Kegiatan yang dihadiri pemerintah, akademisi dan pegiat lingkungan itu digelar dalam rangka menuju Tahun Emas BINTARI ke 40 di kantor setempat Banyumanik Semarang, Kamis, 12 Februari 2026.
Ia mengungkap sampah organik yang seharusnya bisa langsung dikomposkan justru harus dipisahkan satu per satu dari bungkus plastik. Proses membuka kemasan plastik itu memakan waktu dan tenaga, apalagi volumenya bisa mencapai ratusan kilogram per hari.
Kondisi ini berbeda jika limbah makanan tidak tercampur plastik dan bisa langsung diolah di komposter atau kandang ternak. "Tapi karena ada plastiknya itu harus dicopoti dulu, dan jumlahnya banyak banget itu," tuturnya.
Sri menilai, persoalan ini muncul karena sisa makanan kerap dibuang tanpa melepas kemasan. Limbah tersebut kemudian diserahkan ke bank sampah yang mayoritas dikelola pekerja sosial berbasis masyarakat.
Ia merekomendasikan agar pemerintah melibatkan pihak ketiga seperti konsultan lingkungan dalam tata kelola sampah MBG. Skema ini dinilai penting agar ada sistem pengolahan sebelum limbah masuk ke bank sampah.
Dengan melibatkan pihak ketiga, pengelolaan bisa lebih terstruktur dan tidak sepenuhnya dibebankan ke masyarakat. Selain itu, perlu ada skema insentif karena beban kerja pengelola meningkat setiap hari.
"Artinya ini (sampah MBG) perlu dikelola ya. Program ini memang ya bagus tapi harus dipikirkan ending-nya itu dipikirkan, ending dari kegiatan ini (pengelolaan sampah)," katanya.
Sri menilai, tanpa dukungan sistem dan penghargaan yang memadai, pengelolaan sampah MBG akan terus menjadi persoalan. Apalagi volume sampah muncul rutin seiring distribusi makanan setiap hari.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Pelaksana Bintari, Amalia Wulansari, menyebut isu sampah MBG sebagai kebutuhan baru yang perlu ditangani serius. Menurutnya, pengelolaan limbah organik ini berpotensi dikembangkan menjadi kompos atau pakan maggot.
Bintari membuka peluang riset bersama perguruan tinggi di Semarang untuk mencari model pengolahan yang tepat. Kerja sama itu diharapkan bisa melibatkan pemerintah dan sektor swasta.
"Kita mungkin perlu riset dulu, kita bekerja sama dengan universitas yang ada di Semarang misalnya Unika, Undip atau Unnes dan kemudian bagaimana peluang itu bisa kemudian dikerjasamakan," ujarnya.
Isu ini dinilai relevan dengan gerakan bersih sampah dan target zero sampah 2029 yang dicanangkan pemerintah. Oleh karena itu, solusi pengelolaan sampah MBG perlu dipikirkan dari hulu hingga hilir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....