Lebih Ramah Lingkungan, Walhi Dorong Daur Ulang Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular

  • 17 Jun 2026 08:36 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah mendorong pengelolaan sampah plastik berbasis ekonomi sirkular sebagai solusi yang lebih berkelanjutan. Pendekatan tersebut dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif.

Deputi Direktur Walhi Jawa Tengah, Nur Cholis mengatakan, pemanfaatan limbah plastik menjadi energi alternatif memang tengah berkembang di berbagai daerah. Namun, menurutnya, upaya tersebut perlu dikaji secara menyeluruh agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.

"Pemanfaatan plastik ini menjadi energi bukan solusi utama. Paling jauh hanya solusi sementara terhadap bagian kecil sampah yang sudah terlanjur ada," ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa RRI Semarang, Senin, 15 Juni 2026.

Menurutnya, pengelolaan sampah plastik seharusnya lebih diarahkan pada upaya pengurangan dari sumber serta memperkuat sistem daur ulang. Dengan demikian, sampah plastik dapat kembali dimanfaatkan sebagai bahan baku produk baru tanpa memperpanjang ketergantungan terhadap energi fosil.

"Walhi mendukung daur ulang dari plastik menjadi biji plastik yang kemudian menjadi plastik kembali. Bukan dari plastik menjadi bahan bakar," ujarnya.

Ia menegaskan, konsep ekonomi sirkular tidak hanya memberikan manfaat ekonomi. Akan tetapi, juga memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.

Persoalan sampah plastik pada dasarnya bermula dari tingginya produksi dan konsumsi plastik sekali pakai. Oleh karena itu, penyelesaiannya tidak cukup hanya berfokus pada teknologi pengolahan di hilir, tetapi juga perlu menyasar perubahan pola konsumsi masyarakat.

"Kalau keran air terus dibuka, berapa besar pun ember yang kita punya tetap akan penuh. Begitu juga dengan sampah plastik," tuturnya.

Menurutnya, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai menjadi langkah penting yang perlu terus didorong. Ia menilai produsen plastik juga memiliki tanggung jawab besar dalam mengatasi persoalan tersebut.

Ia menegaskan, industri dinilai tidak boleh hanya menikmati keuntungan dari penjualan produk, sementara beban pengelolaan limbah sepenuhnya ditanggung masyarakat dan pemerintah. "Siapa yang menghasilkan masalah harus ikut bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut," ucapnya.

Ia pun mendorong produsen untuk mendesain kemasan yang dapat digunakan ulang. Selain itu, produsen juga dapat membiayai pengelolaan sampah yang dihasilkan.

Dalam praktiknya, Walhi Jawa Tengah juga mendorong berbagai inisiatif pengurangan sampah plastik di tingkat masyarakat. Mulai dari kampanye pembatasan penggunaan kantong plastik sekali pakai, sistem guna ulang, hingga penguatan peran pemulung dan sektor daur ulang.

Menurutnya, pemulung memiliki kontribusi penting dalam mengurangi timbulan sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. Melalui mekanisme ekonomi sirkular, sampah plastik dapat didistribusikan kembali ke industri daur ulang untuk diolah menjadi bahan baku baru.

"Kita tidak bisa hanya meminta masyarakat lebih disiplin. Krisis sampah juga membutuhkan perubahan kebijakan dan tanggung jawab dari industri," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....