Program Eco Edufarming, Petani Bangkalan Panen Melimpah di Musim Kemarau

  • 06 Okt 2026 09:03 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Program Eco Edufarming memungkinkan petani di Desa Bandang Dajah mencatat peningkatan hasil panen di musim kemarau dibandingkan musim hujan.
  • Penggunaan media tanam cocopeat menjadi salah satu kunci utama karena mampu menyimpan air lebih lama dan mendukung efisiensi sumber daya.
  • Inovasi pertanian ramah lingkungan berbasis keberlanjutan sumber daya menjadi strategi Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera untuk meningkatkan produktivitas.

RRI.CO.ID, Bangkalan – Melalui program Eco Edufarming, petani di Desa Bandang Dajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, berhasil membuktikan bahwa musim kemarau bukan halangan untuk berproduksi. Berkat penerapan inovasi pertanian ramah lingkungan, kelompok tani Bumi Sentosa Sejahtera mencatat peningkatan hasil panen dibandingkan musim hujan.

Ketua Kelompok Tani, Marnawi, menjelaskan bahwa inti dari Eco Edufarming adalah efisiensi sumber daya dan keberlanjutan. Salah satu kunci utamanya adalah penggunaan media tanam cocopeat yang mampu menyimpan air lebih lama.

“Alhamdulillah kita masih bisa mengatasi kesulitan air dengan cocopeat. Tanah tetap lembab meski pengairan minim. Dampaknya, hama dan penyakit berkurang drastis, sehingga hasil buah justru lebih melimpah,” ujar Marnawi. Selasa, 6 Oktober 2026.

Dukungan teknologi juga diterapkan melalui sistem irigasi tetes yang bersumber dari sumur bor. Mutarom, anggota kelompok tani, menambahkan bahwa program ini tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga edukasi. Mereka menanam beragam komoditas seperti semangka, melon, tomat, timun, dan cabai dalam satu lahan sebagai media belajar bersama.

“Kami di sini belajar ilmu, bukan bekerja pribadi. Dengan diversifikasi tanaman, pengetahuan kami tidak terbatas pada satu jenis, dan risiko gagal panen bisa diminimalisir,” ucapnya.

Hasil nyata dari program Eco Edufarming pendampingan dari PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) terasa hingga ke aspek ekonomi. Harga produk lokal kini telah setara dengan sayur-mayur dari luar daerah. Pemasaran dilakukan secara mandiri melalui kios desa, pasar tradisional Tanjung Bumi, serta kerja sama langsung dengan pedagang sayur keliling.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....