Sejarah Tradisi Kemeriahan Maulid Nabi di Masyarakat Madura
- 26 Agt 2026 20:33 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Madura terus dipertahankan masyarakat setempat di tengah perubahan zaman modern.
- Perayaan Maulid di Madura identik dengan pembacaan Barzanji, lantunan shalawat, penyajian berbagai hidangan khusus, dan pemberian hadiah kepada para tamu.
- Budayawan Bangkalan Hidrochin Sabarudin menegaskan bahwa tradisi Maulid merupakan salah satu kekhasan dan identitas budaya masyarakat Madura.
RRI.CO.ID, Bangkalan - Tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Madura terus bertahan di tengah perubahan zaman. Tidak hanya diisi pembacaan Barzanji dan lantunan shalawat, perayaan Maulid juga identik dengan beragam sajian hingga hadiah bagi para tamu.
Budayawan Bangkalan, Hidrochin Sabarudin, mengatakan tradisi tersebut menjadi salah satu kekhasan masyarakat Madura dalam memeriahkan Maulid.
Beragam hadiah disiapkan tuan rumah, mulai kipas angin, kursi, galon hingga beras satu sak. Hadiah itu biasanya diberikan kepada tamu yang hadir dalam acara.
Menurut Hidrochin, kebiasaan tersebut bukan sekadar untuk memeriahkan acara. Masyarakat Madura juga memaknainya sebagai bentuk sedekah.
“Orang Madura menganggap itu sebagai sedekah,” ujarnya. Rabu. 26 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, tradisi Maulid di Madura sudah berkembang sejak masuknya Islam sekitar abad ke-14. Syiar Islam kemudian berbaur dengan budaya masyarakat hingga melahirkan tradisi Maulid yang khas.
“Memasuki abad ke-16 dan ke-17, perayaan Maulid mulai semakin berkembang. Kemudian pada abad ke-20, kemeriahan semakin terlihat dengan adanya berbagai hadiah bagi tamu undangan,” imbuhnya.
Hidrochin menuturkan, masyarakat bahkan sudah mempersiapkan kebutuhan Maulid sejak jauh-jauh hari. Warga perantauan biasanya menyisihkan sebagian penghasilan selama setahun untuk kebutuhan tersebut.
“Sudah direncanakan setahun sebelumnya,” katanya.
Menurutnya, kemeriahan Maulid juga melahirkan istilah “cungcungan”, yakni kebiasaan masyarakat menghadiri acara Maulid yang kemudian disertai berbagai pemberian dari tuan rumah.
Namun, Hidrochin mengingatkan agar kemeriahan tersebut tidak menggeser makna utama Maulid. Tradisi harus tetap menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
“Jangan sampai Maulid Rasulullah ini hilang,” ucapnya.
Ia berharap tradisi pembacaan Barzanji, shalawat dan pujian kepada Nabi tetap dipertahankan, khususnya di lingkungan masyarakat dan pesantren.
Baginya, kemeriahan hanyalah pelengkap. Hal terpenting adalah bagaimana masyarakat terus menjaga rasa cinta kepada Rasulullah melalui kegiatan Maulid.
“Rasa sayang kepada beliau kita wujudkan dalam acara Maulid,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....