Budayawan Soroti Lunturnya Bahasa dan Sejarah Madura di Kalangan Generasi Muda

  • 21 Agt 2026 19:30 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Budayawan Sampang R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo mengkhawatirkan penurunan kedekatan generasi muda dengan budaya Madura yang semakin signifikan.
  • Bahasa daerah dan pemahaman sejarah Madura menjadi dua aspek budaya yang paling terdampak oleh perubahan sistem pendidikan nasional.
  • Penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar di sekolah dasar telah ditinggalkan sejak pemerintah mengubah kebijakan pendidikan, mempengaruhi pembentukan karakter dan identitas budaya masyarakat.

RRI.CO.ID, Sampang – Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, menilai kedekatan generasi muda dengan budaya Madura terus mengalami penurunan. Menurut dia, bahasa daerah dan pemahaman terhadap sejarah Madura menjadi dua aspek yang paling terdampak akibat perubahan sistem pendidikan dan perkembangan zaman.

Bustomi mengatakan bahasa ibu merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan identitas budaya masyarakat. Namun, penggunaan bahasa daerah sebagai media pembelajaran di sekolah mulai ditinggalkan sejak pemerintah tidak lagi menjadikannya sebagai bahasa pengantar pada pendidikan dasar.

"Bahasa sebagai budaya dasar sebuah bangsa mulai tergerus sejak bahasa daerah tidak lagi digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah. Padahal bahasa ibu menjadi pintu masuk penanaman tata krama dan nilai budaya," kata Bustomi, Jum'at 21 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, pada kurikulum terdahulu, terutama Kurikulum 1968, bahasa ibu masih digunakan sebagai bahasa pengantar di kelas awal sekolah dasar. Melalui pola tersebut, anak-anak tidak hanya belajar berbahasa, tetapi juga memahami tata krama, tingkatan bahasa, serta nilai-nilai penghormatan kepada orang yang lebih tua yang menjadi bagian dari budaya Madura.

Selain bahasa, Bustomi menilai generasi muda mulai kehilangan pemahaman mengenai sejarah Madura. Menurut dia, materi sejarah lokal hanya mendapat porsi yang sangat kecil di sekolah. Di sisi lain, tenaga pendidik yang memiliki kompetensi mengajarkan bahasa dan budaya Madura juga masih sangat terbatas.

Meski demikian, ia menilai karakter religius masyarakat Madura masih cukup kuat. Namun, menurutnya, sikap religius itu tidak boleh membuat masyarakat mempertentangkan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum. Keduanya justru harus saling melengkapi untuk membangun masyarakat yang berkarakter sekaligus mampu menjaga kearifan lokal.

"Kalau bahasa, sejarah, dan nilai-nilai budaya terus ditinggalkan, generasi muda akan kehilangan identitasnya. Karena itu, pendidikan umum dan pendidikan agama harus berjalan seiring agar budaya Madura tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya," ujar Bustomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....