Jejak Dakwah Keluarga Cakraningrat I di Tanah Pantura Sampang

  • 19 Jun 2026 06:04 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang – Di kompleks Buju' Ka'engkok di Desa Tebbenah, Kecamatan Banyuates, tersimpan kisah panjang tentang keturunan Pangeran Cakraningrat I atau Raden Praseno. Bukan kisah peperangan atau kekuasaan yang paling banyak dikenang masyarakat setempat, melainkan jejak dakwah Islam yang diwariskan melalui garis keturunan keluarga bangsawan Madura tersebut.

(Ket foto: Makam Raden Ayu Wironolo , Puteri dari Raden Prasena Pangeran Cakraningrat Idi sampingnya adalah Makam suaminya Sayyid Abdurrahman Pangeran Blimbing)

Bagi sebagian orang, nama Cakraningrat I identik dengan sejarah pemerintahan Madura pada abad ke-17.

Namun, menurut Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, pengaruh tokoh besar itu tidak berhenti pada urusan politik dan kepemimpinan.

"Melalui keturunannya, Cakraningrat I turut meninggalkan warisan keagamaan yang masih dapat dirasakan hingga saat ini," terangnya.

Jejak itu salah satunya dapat ditemukan di Buju' Ka'engkok, tempat dimakamkannya Raden Ayu Wironolo, putri dari pasangan Sharifah Ambami dan Pangeran Cakraningrat I.

"Makam tersebut menjadi penanda penting hubungan antara lingkungan keraton Madura dengan para ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Pantura,"tuturnya.

Menurut Bustomi, perjalanan sejarah keluarga ini berlanjut ketika Raden Ayu Wironolo menikah dengan Syed Abdurrahman, putra Syeh Abdurrahim, seorang tokoh agama yang makamnya juga berada di kawasan Buju' Ka'engkok. Dari pernikahan tersebut lahirlah generasi-generasi yang kemudian menyebarkan ajaran Islam ke berbagai wilayah Madura.

“Dari garis keturunan inilah lahir tokoh-tokoh agama yang kemudian menyebarkan Islam di berbagai wilayah Pantura Madura. Pengaruh Cakraningrat I tidak hanya terlihat dalam bidang pemerintahan, tetapi juga melalui jaringan keluarga yang berperan dalam pengembangan dakwah Islam,” ujar Bustomi.

Dari Banyuates, jejak keturunan tersebut menyebar ke berbagai daerah di Pantura Madura. Sebagian menetap di Ketapang, sementara lainnya berkembang hingga wilayah Bangkalan.

"Dalam perjalanan waktu, banyak di antara keturunan tersebut yang dikenal sebagai ulama, guru agama, dan tokoh masyarakat yang menjadi panutan di lingkungannya,"ungkapnya.

Warisan yang mereka bawa bukan hanya garis darah keluarga bangsawan, melainkan juga tradisi keilmuan Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui pengajian, pendidikan pesantren, hingga dakwah di tengah masyarakat, nilai-nilai yang pernah ditanamkan para leluhur tetap hidup dan berkembang hingga sekarang.

"Di tengah perubahan zaman, Buju' Ka'engkok masih menjadi tujuan ziarah masyarakat. Namun, bagi mereka yang datang, tempat itu bukan sekadar kompleks makam tua. Di sana tersimpan kisah tentang bagaimana keturunan seorang penguasa Madura memilih jalan dakwah dan pendidikan sebagai warisan yang terus diteruskan kepada generasi berikutnya,"tutupnya.

Bagi masyarakat Madura, kisah keturunan Cakraningrat I menjadi bukti bahwa pengaruh seorang pemimpin tidak selalu diukur dari luas wilayah kekuasaan yang pernah dipimpin. Warisan terbesar justru dapat terlihat dari nilai-nilai yang terus hidup dalam masyarakat, diwariskan melalui keluarga, ilmu pengetahuan, dan dakwah yang melintasi zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....