Mengenal Tradisi To'-oto' Madura: Dari Filosofi "Bisik-Bisik" hingga Kuliner Otok
- 19 Jun 2026 16:40 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Tradisi To'-oto' atau yang aslinya disebut Tokkoto (bisik-bisik) merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Madura yang sarat akan makna mendalam. Secara peristilahan, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, Budayawan Sampang, menjelaskan bahwa kata Tokkoto berakar dari tradisi komunikasi personal yang dilakukan secara pelan atau "bisik-bisik".
"Istilah ini mencerminkan adanya hubungan internal yang sangat akrab, intens, dan dekat antaranggota masyarakat, mengingat aktivitas berbisik hanya mungkin dilakukan dalam jarak yang dekat," jelasnya, Jumat, 19 Juni 2026.
Seiring berjalannya waktu, tradisi "bisik-bisik" ini disimbolkan melalui aspek kuliner, yakni biji kacang panjang atau dalam bahasa Madura disebut otok. Hidangan wajib yang dinamakan seronding ini menyajikan biji kacang panjang putih yang digoreng dengan perpaduan bumbu pedas dari merica dan lombok, manis dari gula merah, serta rasa masam.
Filosofinya melambangkan biji-bijian yang semula bercerai-berai dan bertaburan, namun dipersatukan di dalam sebuah wadah untuk dinikmati bersama demi memaknai kedekatan. Selain menu utama tersebut, dalam prosesi adat To'-oto' zaman dulu juga disajikan jajanan tradisional berupa potongan tetel berwarna putih dan wajik berwarna merah.
Kehadiran warna merah dan putih ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah simbol pertanda persatuan yang diwarisi dari kerajaan Nusantara terdahulu seperti Singasari, Kediri, dan Majapahit. Melalui simbolisme kuliner ini, masyarakat Madura tidak sekadar menyajikan makanan, tetapi juga merawat nilai-nilai persatuan nasional yang diwariskan turun-temurun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....