Mendekap Tempat Bernaung demi Keluarga Kecilku
- 30 Jan 2026 18:04 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Pamekasan - Memiliki rumah pada usia muda atau disebut generasi milenial adalah impian banyak orang, meski tidak semua dari mereka dengan mudah bisa mewujudkannya. Di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, kaum milenial dengan rentang usia 20 hingga 30 tahun cenderung berkeinginan mempunyai rumah setelah menikah.
Demikian yang dilakukan Wildan (33) bersama istrinya. Usai menikah, persisnya pada tahun 2017, Wildan mengaku tak punya pilihan lain, selain tinggal di rumah orang tua. Empat tahun usia pernikahan mereka berjalan dengan dikaruniai satu anak, sekitar tahun 2021, Wildan dan istri memutuskan menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk membeli rumah.
"Tidak mungkin selamanya tinggal di rumah orang tua atau mertua. Karena ada tidak enaknya juga," ucapnya, Jumat, 30 Januari 2026.
Pada saat itu, berbagai tawaran rumah yang merupakan subsidi pemerintah pusat tengah "naik daun". Brosur penjualan rumah subsidi dengan beragam promo dan kemudahan yang ditawarkan para pengembang bertebaran di mana-mana.

Dengan gaji sebagai tenaga honorer pemerintah daerah, dan penghasilan istrinya sebagai tenaga pemasar produk roti, akhirnya, satu dari sekian banyak tawaran itu berhasil menggugah hati Wildan dan istri untuk segera berumah milik sendiri melalui KPR Subsidi BTN.
"Tahun 2021 itu ada satu pengembang yang menawarkan dengan letak strategis dan kondisi bangunan bagus seharga Rp155 juta. Tepatnya, di Kelurahan Kowel," ujarnya.
Kemudian, Wildan mengajukan diri dengan melengkapi persyaratan yang diminta pengembang."Untuk mendapatkan hunian itu, selain uang muka Rp14 juta, kami membayar cicilan sebesar Rp1 juta 160 ribu per bulan selama 15 tahun melalui BTN," katanya.
"Gaji saya sekitar Rp1 juta, sementara penghasilan istri kurang lebih Rp4 juta per bulan. Kami juga buka usaha minuman dan makanan angkringan. Itulah yang diolah untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar cicilan rumah."
Selain harga yang terjangkau, alasan Wildan memilih membeli rumah subsidi di wilayah tersebut karena lokasinya lebih strategis dibandingkan perumahan lainnya."Akses jalan hunian di sini luas, dan lokasinya tidak jauh dari pusat kota," ucapnya.
Dia bersama istri dan anaknya sudah menempati rumah tipe 38 di Perum Royal Nyalaran selama kurang lebih 4 tahun, dengan fasilitas rumah terdiri dari dua kamar, ruang tamu, toilet, dapur dan air bor. "Dengan memiliki rumah sendiri, kami bisa belajar mandiri, baik secara finansial maupun tanggung jawab sehari-hari serta bebas mengatur properti sesuai keinginan dan kemampuan kami," tuturnya.
Berdasarkan data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), PT BTN menjadi penyalur KPR dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR Sejahtera FLPP) terbesar secara nasional dengan total realisasi mencapai 128.608 unit rumah subsidi atau setara 46,7% dari total penyaluran nasional sebanyak 270.985 unit hingga 22 Desember 2025.
BTN menjadi bank penyalur KPR FLPP Sejahtera dengan realisasi penyaluran tertinggi di antara 39 bank penyalur dengan rumah yang dibangun oleh 8.058 pengembang yang terdiri dari 13.118 perumahan yang tersebar di 33 provinsi di 401 kabupaten/kota. Anak usaha BTN, yakni PT Bank Syariah Nasional (BSN) menjadi penyalur terbesar kedua dengan total realisasi penyaluran sebanyak 59.463 unit saat BSN masih berupa Unit Usaha Syariah (BTN Syariah). Secara total, penyaluran oleh BTN dan BSN mencapai 188.071 hingga 22 Desember 2025.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....