Di Ujung Pantura Sampang, BRILink Mitra Mandiri Jadi Juragan
- 28 Jun 2026 16:04 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Pagi itu menjelang siang, Minggu 28 Juni 2026, sebuah toko dengan papan nama BRILink Mitra Mandiri di Dusun Batu Lengir Barat, Desa Bira Tengah, Sokobana, Sampang, tampak menjadi pusat perhatian warga. Rak penuh barang kebutuhan harian, lemari pendingin berisi minuman, dan cahaya lampu neon yang menggantung di langit-langit memberi nuansa khas ruang multifungsi, toko sekaligus agen perbankan.
Di balik meja kayu, Nabila seorang karyawan muda yang menjaga toko melayani pelanggan dengan senyum ramah. Tangannya cekatan mengoperasikan mesin transaksi, sementara matanya sesekali menatap pelanggan dengan penuh perhatian. Dua orang berdiri menunggu giliran, seorang lainnya duduk di bangku kecil, dan suasana akrab pun tercipta.
BACA JUGA: Perjuangan Perempuan Pasar, Menolak Tunduk pada Keterbatasan
“Tenang, Pak, sebentar lagi selesai ya. Tarik tunai Rp300 ribu, kan?” ucap Nabila sambil memastikan data transaksi.
“Betul, Mbak. Sekalian nanti mau bayar listrik juga,” jawab seorang nasabah.
“Baik, nanti langsung saya proses. Jangan lupa bawa struknya, biar aman,” tambah Nabila dengan nada hangat.

Dari Mesin EDC ke Juragan BRILink
Di balik keramaian toko itu, berdiri sosok Ibrahim Zahbana (35), pemilik sekaligus penggerak BRILink Mitra Mandiri. Usaha ini dirintis sejak 2018, berawal dari sebuah mesin EDC di rumah.
BACA JUGA: Kisah Mantan TKI Berlabuh ke Jembatan Keuangan Desa
“Awalnya dari kebutuhan, mas. Teman-teman bingung mau transaksi di mana, jarak ke bank lumayan jauh, sekitar 15 kilo. Akhirnya saya manfaatkan mesin untuk isi token listrik dan transaksi kecil-kecilan,” kenangnya.
Seiring waktu, usaha kecil itu menjadi pusat transaksi warga desa. Rata-rata keluarga di Bira Tengah memiliki anggota yang bekerja di Malaysia atau Arab Saudi. Kiriman gaji dari luar negeri membuat toko Ibrahim selalu ramai di awal bulan.
“Kalau awal merintis, sebulan hanya 200 transaksi. Sekarang Alhamdulillah sudah ribuan, bahkan bisa lebih dari 3.000 transaksi per bulan dan bertahan di kelas Juragan agen BRILink,” ujarnya.
Kepercayaan sebagai Modal Utama
Bagi Ibrahim, modal terbesar bukanlah uang, melainkan kepercayaan.
“Aslinya kalau BRILink itu kan kepercayaan, mas. Kalau masyarakat sudah percaya, insya Allah usaha ini jalan,” ucapnya dengan nada lirih.
BACA JUGA: Hikmah Pandemi COVID-19: Dari Perantau Sukses Agen BRILink di Kampung
Pernah ada salah transaksi, namun berkat jaringan pertemanan dan bantuan kepala desa, masalah bisa ditelusuri hingga selesai.
“Alhamdulillah sampai sekarang aman. Kalau ada masalah, kita telusuri bersama. Intinya, kepercayaan masyarakat itu yang utama,” katanya berucap.

Karyawan dan Suasana Toko
Kini Ibrahim dibantu tiga karyawan perempuan, Nabila, Alfie, dan Siti. “Nabila sudah tiga tahun bekerja di sini. Istri saya, Nur Rahayu, ikut mendampingi dan mengawasi,” jelasnya.
BACA JUGA: Dari HP Jadul ke Tabungan Haji: Kisah Muzammah Agen BRILink Camplong
Siang hari dua karyawan melayani nasabah, malam hari ditambah satu orang lagi. Toko buka hingga hampir tengah malam, sementara usaha minuman dingin tutup pukul 8 malam. Suasana toko pun menjadi tempat nongkrong warga sekitar, bukan sekadar ruang transaksi.
Suara Nasabah dan Orang Terdekat
Perjalanan Ibrahim tidak ia jalani sendiri. Ada dukungan keluarga, karyawan, dan masyarakat yang membuat usaha ini semakin kokoh.Istrinya, Nur Rahayu, menjadi sosok pendamping setia. Ia melihat langsung bagaimana usaha kecil yang dirintis suaminya kini menjadi sumber rezeki keluarga sekaligus mempermudah masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah, usaha ini sekarang sudah menjadi sumber rezeki keluarga. Saya mendampingi suami sejak awal merintis, dan melihat bagaimana BRILink membantu masyarakat sekitar. Rasanya bangga, karena usaha kecil kami bisa mempermudah hidup orang banyak,” ucapnya dengan penuh Syukur.

Salah satu karyawan, Nabila, merasakan suasana kerja yang hangat. Baginya, bekerja bersama Ibrahim bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bagian dari keluarga besar yang saling mendukung.
“Saya betah bekerja bersama Pak Ibrahim. Rasanya sudah seperti keluarga sendiri. Beliau selalu memberi motivasi agar hidup ini berguna untuk masyarakat. Itu yang membuat saya nyaman dan ingin terus bertahan di sini,” ujar Nabila yang sudah tiga tahun bersama Ibrahim.
Salah seorang pemuda desa setempat Muhammad mengaku kini hidup lebih mudah. Ia tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh ke kecamatan atau kota Sampang untuk sekadar menarik uang kiriman dari orang tuanya yang merantau.
“Alhamdulillah, sekarang saya tidak bingung lagi harus ke kecamatan atau ke kota Sampang untuk tarik tunai kalau ada kiriman dari orang tua yang merantau. Cukup di agen BRILink sini, lebih mudah dan Amanah,” ungkapnya.

Suara BRI
Perjuangan Ibrahim tidak hanya mendapat kepercayaan masyarakat, tetapi juga apresiasi dari BRI. Vini Dwi Jayanti, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BRI BO BRI BO Sampang.
“Saya apresiasi karena awalnya Agen BRILink Mitara Mandiri dia berada di kelas Jawara namun mampu naik kelas ke Juragan meski ada di plosok desa pantura Sampang, saya barharap terus bisa di pertahankan,” kata perempuan berhijab itu.
Di ujung Pantura Sampang, BRILink Mitra Mandiri bukan hanya pusat transaksi, melainkan juga pusat kehidupan sosial desa. Dari sebuah mesin di rumah, Ibrahim Zahbana mampu naik kelas ke “Juragan” BRILin” sebgai tanda kepercayaan, kemandirian, dan denyut ekonomi masyarakat pesisir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....