Tragedi Cinta di Tanah Mandangin

  • 23 Jan 2026 23:38 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Angin laut Mandangin tak hanya membawa aroma asin dan debur ombak. Di pulau kecil itu, kisah cinta dan kematian pernah bersemayam, diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah itulah yang kembali dihidupkan Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, Jum'at 23 Januari 2026.

Melalui Puisi Tragedi Cinta di Tanah Mandangin, Bustomi menuturkan legenda asmara lokal Madura yang lama terpendam. Sebuah kisah yang, menurutnya, tak kalah indah dan pedih dibanding legenda cinta dunia.

“Legenda asmara Madura jarang terangkat,” ujarnya lirih. Padahal, setiap wilayah di Madura menyimpan cerita cinta yang utuh, lengkap dengan harapan, pengkhianatan, dan pengorbanan.

Ia membandingkan kisah itu dengan Rama dan Shinta, Romeo dan Juliet, atau Qais dan Laila. Dalam lanskap sejarah Madura, Sampang memiliki Bangsacara dan Ragapatmi—dua nama yang terikat cinta dan maut.

Bangsacara adalah pemuda jelata yang mengabdi di Kraton Pacangan. Di balik tembok istana, cintanya tumbuh pada Ragapatmi, puteri kraton yang sempat terasing karena penyakit kulit parah.

“Ragapatmi sembuh setelah dirawat ibu Bangsacara,” kata Bustomi. Dari perawatan sederhana itu, cinta bersemi tanpa pamrih.

Namun cinta tak selalu berjalan lurus. Bangsapati, tokoh yang juga menginginkan Ragapatmi, menenun siasat licik demi ambisi. Ia memaksa kehendak, ingin segera mempersunting sang puteri.

Bangsacara kemudian diperintah berburu ratusan kijang di Pulau Mandangin. Perintah itu, menurut Bustomi, adalah jebakan yang dirancang rapi.

Di belantara Mandangin, Bangsacara ditikam dari belakang. Tubuhnya roboh di tanah pulau, sementara laut tetap bergelombang, seolah tak tahu ada cinta yang runtuh.

Ragapatmi menemukan jasad kekasihnya. Saat memeluknya, ujung keris melukai dadanya sendiri. Dalam pelukan terakhir itu, keduanya menghadap Sang Pencipta.

Kedua jenazah dimakamkan berdampingan di Pulau Mandangin oleh para saudagar pelintas Selat Madura. Makam itu menjadi prasasti bisu tentang cinta yang tak selesai di dunia.

Akhir kisah menempatkan keadilan pada waktunya. Bangsapati dieksekusi oleh Rato Bidarba setelah perannya terbongkar. Tragedi pun menjadi pelajaran, bukan sekadar legenda.

Kisah itu kini menjelma puisi. Sebuah suara dari pesisir, yang dibacakan angin, ombak, dan ingatan.

TRAGEDI CINTA DI TANAH MANDANGIN

Jika kau berani berlayar dari Sakala

sampai menikung di Karang Jamuan

mestinya bisa membaca sisa badai

yang menghajar karang Mandangin

atau mengeja beribu punggung gelombang

pada belukar yang masih tersisa

belukar yang berdaun pucuk-pucuk keris

yang masih berlumur darah kesetiaan

yang bermula di antara pilar-pilar balairung istana

itulah prasasti

yang terukir dari sepasang dada yang tertikam

Bangsacara dan Ragapatmi

meski di sini tak ada cempaka dan melati

tapi pesisir masih setia pada debur gelombang

laut masih setia pada cakrawala

dan beribu camar masih setia pada awan

desir angin yang kian bermekaran

adalah senandung cinta

yang merangkum seribu mimpi

yang tetap setia

menjawab teriakan gelombang

yang setia menciumi bibir pantai.

Pesisir Jatra Timur, 23 Januari 2026

Bustomi Irwan Kurniadi

Rekomendasi Berita