Dari HP Jadul ke Tabungan Haji: Kisah Muzammah Agen BRILink Camplong
- 28 Jun 2026 09:23 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Pagi itu menjelang siang, Sabtu, 27 Juni 2026, di sebuah sudut pasar Camplong, Kabupaten Sampang, dengan dinding biru sederhana, di balik meja kecil bertuliskan “Agen BRILink Layanan Transaksi Online.” Seorang perempuan berkurudung kuning tersenyum ramah dari balik loket, tangannya cekatan menghitung lembaran rupiah ia Adalah Muzammah (34 tahun) pemilik Agen BRILink.
Di hadapan meja, dua lelaki duduk dengan sikap berbeda, satu di kursi plastik, wajahnya penuh keseriusan, seakan memastikan uang yang ia titipkan benar-benar aman, satu lagi di bangku kecil, menggenggam uang dengan hati-hati, seolah menyadari betapa setiap rupiah adalah harapan bagi keluarganya. Di ruang sempit itu, kulkas mini dan lembaran dokumen di dinding menjadi saksi bahwa layanan keuangan kini hadir di ruang yang akrab, menyatu dengan keseharian warga.
BACA JUGA: Kisah Nenek di Ujung Kampung Bangkalan Sukses Pertahankan Juragan Desa

Awal Merintis
Di sebuah gang kecil di Desa Camplong, Sampang, Mozamma memulai langkahnya dengan sederhana. Kala itu ia masih mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Pamekasan, sibuk menuntaskan skripsi sambil berjualan pulsa dan barang-barang online. HP Samsung yang kecil dan terbatas menjadi saksi awal perjuangannya.
“HP saya dulu masih jadul, cuma bisa BBM, aplikasinya nggak mampu,” kenang Muza sapaan perempuan berkcamata itu sambil tersenyum. Ditemua di sela-sela melayani warga yang hendak melakukan transaksi.
Dengan kartu ATM Junio milik mahasiswa, ia kerap membantu tetangga menerima kiriman uang dari luar negeri. Dari teras BRI tempat ia sering singgah, namanya perlahan dikenal. Hingga suatu hari, pegawai BRI menawarkan kesempatan menjadi agen BRILink.
BACA JUGA: Dari Sepeda Butut di Ujung Desa Lahirkan Jaring Pengaman Finansial
“Saya ditawari asas kepercayaan, katanya bisa jadi agen BRILink, dan resmi terdaftar dan bergabung di agen BRILink tahun 20217,” kata Muza mengingat kala itu.
Tantangan dan Perjuangan
Namun jalan itu tidak mulus. Ia berniat membeli HP baru dengan modal Rp3 juta, tetapi tertipu lewat transaksi di BBM. Uang muka Rp750 ribu lenyap begitu saja.
“Saya sadar ditipu setelah uang DP nggak ada kabarnya,” ucapnya.
BACA JUGA: Dari Bidan dan Kru Kapal Pesiar, Menjadi Pelita Keuangan Masyarakat Desa
Tak patah semangat, Muza menabung dari hasil usaha kecil-kecilan. Ia membantu di teras BRI, menyetor uang langsung ke teller, hingga tabungannya berkembang menjadi Rp5 juta, lalu Rp10 juta. Dari situ ia ikut arisan, menolak saran orang tua membeli emas, dan memilih memutar uang untuk usaha.
“Kalau orang tua nyuruh beli emas, tapi saya pilih usaha dulu,” ungkapnya.
Awalnya ia melayani transaksi dari rumah di dalam gang. Orang-orang harus masuk jauh ke dalam untuk setor atau tarik tunai. Banyak yang mengira Muza adalah pegawai BRI, bukan sekadar agen. Hingga akhirnya ia berani pindah ke toko kontrakan di pinggir jalan di area pasar Camplong, sekaligus membuka usaha baju. Lokasi strategis membuat transaksi semakin ramai.

Pencapaian
Kini, rata-rata transaksi harian mencapai 20 kali. Saat akhir bulan atau pencairan bantuan sosial PKH dan BPNT, jumlahnya bisa melonjak hingga 100 lebih.
“Kalau akhir bulan bisa sampai 30 transaksi, kalau PKH bisa lebih serratus,” ujarnya dengan senyum tipis.
BACA JUGA: Jawara BRILink Pulau Mandangin Mengubah Hidup Warga Pesisir
Kepercayaan masyarakat semakin kuat. Banyak TKI dari Malaysia, Mekah, hingga Arab Saudi menitipkan uang melalui rekening Mozama. Uang itu disalurkan sedikit demi sedikit untuk kebutuhan anak sekolah, agar tidak langsung habis.
“Kadang ada yang nitip 2 juta, 3 juta buat anak sekolah. Saya kasihnya harian biar nggak habis sekaligus,” ujarnya.
Dari situ ia mendapat tips tambahan, yang kembali diputar sebagai modal. Hasilnya yang terkumpul bisa buat beli emas, perjalanan umroh, hingga mendaftar haji.
“Alhamdulilah saya sudah umroh dan sudah mendaftar haji,” kata Muza.

Perjalanan Pahit
Namun perjalanan ini bukan tanpa luka. Ada kenalan yang awalnya rajin membayar pinjaman dengan tambahan lebih, hingga Muza percaya penuh. Saat meminjam Rp10 juta, ia tak pernah mengembalikan. Orang itu kemudian meninggal di Malaysia.
“Saya ikhlaskan, anggap saja uang itu nggak berkah,” kata Muza dengan nada pasrah.
Ada pula pengalaman pahit dengan seorang pelanggan yang berutang Rp4 juta. Perselisihan dengan anaknya berujung ancaman serius, bahkan sampai diancam dibunuh.
“Saya nggak cerita ke orang tua, takut mereka khawatir,” ucapnya dengan sedikit lirih.

Suara Nasabah dan BRI
Sementara itu, Mbak Rus salah satu pedagang pasar Camplong merasa sangat terbantu dengan adanya Agen BRILink Muzammah karena tidak usah jauh-jauh untuk membayar cicilan dan stor tunia.
“Orangnya ramah dan sya sudah mengenalnya orangnya sangat baik, banyak pedagang disini yang punya tanggungan cicilan ya bayarnya di Muzammah ini," ujarnya di temuai usai membayar cicilan.
Hal senada disampaikan Ummi Muslihah, pemilik toko grosir di pasar Camplong.
“Biasanya kalau saya membayar ke sales melalui Mbak Muza, stor tunai hasil jualan juga ya di sini,” ucapnya usai melakukan transaksi.
Di temui secara terpisah, Vini Dwi Jayanti, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BO BRI Sampang, sangat mengapresiasi dan mengakui kiprahnya.
“Dari 674 agen aktif se-Kabupaten Sampang, Mbak Muza bagian dari pengurus paguyuban. Ia sering membantu saya berkoordinasi dengan agen lain. Bertahan dan konsisten di kelas Jawara tiap bulan itu sudah sangat bagus, apalagi di sepanjang jalan Raya Camplong agen BRILink sangat banyak,” ungkapnya.
Kini, di pertokoan area Pasar Camplong, Muzammah berdiri sebagai agen BRILink yang dipercaya banyak orang. Dari HP jadul hingga tabungan haji, dari gang sunyi hingga titik keramaian pasar, kisah Muzammah adalah cerita tentang ketekunan, kepercayaan, dan keberanian seorang perempuan Camplong menekuni usaha yang mengubah hidupnya dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....