Sampang dalam Lintasan Sejarah Masuknya Islam ke Madura Barat
- 16 Jun 2026 19:58 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Di tengah kehidupan religius masyarakat Sampang saat ini, tersimpan jejak sejarah panjang yang membentuk wajah Madura selama berabad-abad. Masjid-masjid tua, tradisi keagamaan, hingga kuatnya budaya Islam yang hidup di tengah masyarakat bukanlah sesuatu yang hadir dalam sekejap. Semua berawal dari perjalanan panjang para tokoh yang membawa ajaran Islam ke Madura Barat, wilayah yang dahulu meliputi Bangkalan, Sampang, dan daerah sekitarnya.
(Foto: Makam Adipati Pramono (Adipati Sampang), Saudara R, Pragalba Arosbayadan makam isterinya ( Adipati Pamekasan ) Nyai Banu Lokasi bagian barat laut masjid Madegan Sampang)
Budayawan Madura, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, menuturkan bahwa Sampang memiliki sejarah pemerintahan yang lebih tua daripada yang banyak diketahui masyarakat saat ini. Pada masa Raden Arya Lembu Peteng, wilayah kekuasaan lokal telah terbentuk di kawasan antara Pulau Mandangin hingga Madegan. Saat itu, Lembu Peteng dikenal sebagai Kamituwo, yakni perwakilan kecil Kerajaan Majapahit di wilayah pesisir Madura.
Menurut Bustomi, Islam pada masa awal belum berkembang sebagai agama resmi pemerintahan. Ajaran tersebut masuk secara perlahan melalui individu-individu yang berinteraksi dengan pusat-pusat dakwah Islam di Pulau Jawa. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa Raden Arya Lembu Peteng pernah berguru kepada Sunan Ampel.
"Dari hubungan itulah pengaruh Islam mulai dikenal oleh masyarakat Madura Barat, meskipun belum menjadi agama yang dianut secara kolektif,"terangnya Selasa 16 Juni 2026.
Perjalanan sejarah kemudian membawa perubahan besar ketika Empu Bageno seorang tokoh yang ditugaskan mempelajari Islam di Kudus pada masa Sunan Kudus, kembali ke Arosbaya pada tahun 1527.
"Kepulangannya menjadi titik penting dalam proses penyebaran Islam di lingkungan bangsawan dan pemerintahan Madura Barat," jelasnya.
Namun jalan dakwah yang ditempuh Empu Banggenu tidak selalu mulus. Kehadirannya sempat menimbulkan penolakan dari sebagian kalangan keraton. Ia dianggap mengambil keputusan besar dengan memeluk Islam tanpa persetujuan pemimpin tertinggi saat itu. Meski demikian, melalui dialog dan penjelasan yang bijaksana, ajaran Islam perlahan mulai diterima.
"Salah satu tokoh yang kemudian memahami ajaran tersebut adalah Raden Pratanu, putra Kiai Pragalba. Dukungan Raden Pratanu menjadi momentum penting yang mempercepat penerimaan Islam di lingkungan keraton. Empat tahun setelah kedatangan Empu Bageno perubahan besar akhirnya terjadi,"katanya.
Diungkapkannya pada tahun 1531 Masehi, setelah menggantikan ayahnya yang wafat, Raden Pratano menjadikan Islam sebagai agama resmi warga Keraton Plakaran Arosbaya.
"Sejak saat itu ia memperoleh gelar Panembahan Lemah Duwur dan memimpin Madura Barat yang mencakup Bangkalan, Sampang, serta wilayah sekitarnya. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah Islamisasi Madura,"ungkapnya.
Namun Bustomi menegaskan bahwa jejak Islam di Sampang sebenarnya telah terlihat sebelum masa Panembahan Lemah Duwur. Hanya saja, belum ditemukan catatan resmi yang menyebut Islam sebagai agama keraton sebelum tahun 1531.
"Salah satu bukti fisik yang hingga kini masih dapat disaksikan adalah keberadaan Masjid Madegan. Masjid bersejarah itu dibangun pada masa Adipati Pramono, penguasa Sampang yang merupakan kakak dari Kiai Pragalba dan paman dari Raden Pratano. Keberadaan masjid tersebut menunjukkan bahwa pengaruh Islam telah hadir dan berkembang di lingkungan elite pemerintahan sebelum Islam ditetapkan sebagai agama resmi keraton.
“Masjid Madegan menjadi bukti penting bahwa identitas Islam sudah tampak secara nyata di Sampang. Tidak mungkin seorang penguasa yang sepenuhnya berpegang pada tradisi Hindu-Buddha membangun masjid seperti itu,” ujar Bustomi.
Masjid Madegan sendiri berdiri di kawasan bekas Keraton Madegan. Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, bagian inti bangunan kunonya masih dapat ditemukan hingga sekarang. Di kawasan tersebut juga terdapat gapura kuno yang menjadi pintu masuk kompleks keraton. Dalam pandangan Bustomi, keberadaan gapura dan masjid itu menjadi saksi bisu peralihan budaya dari era Hindu-Buddha menuju era Islam di Madura.
"Tak jauh dari lokasi itu terdapat pula makam Adipati Pramono bersama istrinya, Nyai Ratu Ayu Bano atau Ratu Bano, yang juga memiliki hubungan dengan pemerintahan Pamekasan. Pernikahan keduanya menjadi salah satu simbol hubungan erat antarwilayah di Madura pada masa itu,"jelasnya.
Bagi masyarakat Sampang, kisah masuknya Islam bukan sekadar catatan masa lalu. Sejarah tersebut adalah fondasi yang membentuk identitas daerah hingga saat ini. Dari dakwah perorangan, pembangunan masjid, hingga pengesahan Islam sebagai agama keraton, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang melahirkan karakter religius masyarakat Madura.
“Gelar panembahan adalah simbol masa transisi dari Hindu-Buddha menuju Islam. Dari titik itulah Islam berkembang bukan hanya sebagai agama, tetapi juga menjadi fondasi budaya, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat Madura,” kata Bustomi.
Lima abad telah berlalu sejak Islam resmi menjadi agama Keraton Plakaran Arosbaya. Namun jejaknya masih hidup dalam tradisi, budaya, dan kehidupan masyarakat Sampang.
Dari Madegan hingga Mandangin, dari masjid tua hingga makam para tokoh pendahulu, sejarah itu terus mengingatkan bahwa perjalanan Islam di Madura dibangun oleh proses panjang, dialog, dan keteladanan para pemimpinnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....