Adipati Mertosari dalam Puisi, Melawan Lupa Sejarah

  • 21 Jan 2026 20:53 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Di sela kesibukan mengikuti seminar, dialog kebudayaan, hingga berbagai agenda sosial dan keagamaan, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo memilih menepi sejenak.

Budayawan Sampang itu kembali menulis puisi. Kali ini, puisinya bukan sekadar karya sastra, melainkan gugatan ingatan terhadap sejarah yang nyaris terhapus.

Puisi berjudul Pahlawanku Adipati Mertosari ditulis sebagai bentuk protes personal. Bustomi mempertanyakan seberapa banyak masyarakat Sampang yang masih mengenal Adipati Mertosari, penguasa Sampang pada 1623–1624. Ia menyebut, tokoh tersebut nyaris hilang dari ingatan kolektif, meski gugur mempertahankan tanah Madura.

“Kalau penduduk Sampang satu juta, ada tidak seratus orang yang paham siapa Adipati Mertosari?” ucapnya. Pertanyaan itu lahir dari kegelisahan atas terputusnya generasi masa kini dengan sejarah lokalnya sendiri.

Adipati Mertosari memimpin Sampang pada masa genting. Tahun 1623, Kerajaan Mataram Islam di bawah Sultan Agung Hanyokro Kusumo melancarkan invasi ke Madura. Serangan pertama gagal total setelah pasukan Mataram dipukul mundur di Arusbaya oleh para adipati Madura yang masih terikat hubungan kekerabatan.

Catatan sejarah menyebut sekitar enam ribu pasukan Mataram tewas dalam serangan tersebut. Kekalahan itu memicu kemarahan Sultan Agung. Setahun kemudian, 1624, invasi kedua dilakukan dengan strategi baru atas saran penasihat kerajaan, Kiai Juru Kiting.

Berbeda dari sebelumnya, serangan kali ini dilakukan serentak. Arusbaya, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep diserang pada hari dan waktu yang sama. Puluhan ribu pasukan Mataram dibagi ke lima wilayah, sementara Madura menghadapi ketimpangan jumlah dan persenjataan.

Di Sampang, hanya sekitar dua hingga tiga ribu pasukan menghadapi puluhan ribu tentara Mataram. Dalam kondisi itu, Adipati Mertosari memilih jalan puputan. Ia tidak menyerah, tidak mengalah, dan tetap maju sebagai pemimpin tertinggi. Sikap itu, menurut Bustomi, serupa dengan semangat Perang Badar, ketika kekuatan tidak seimbang tetapi martabat tidak ditawar.

Perang habis-habisan terjadi di seluruh Madura. Hampir seluruh pimpinan dan pasukan gugur di medan laga. Yang tersisa hanya Raden Praseno, kemenakan Adipati Mertosari, putra Pangeran Tengah, yang kemudian ditawan dan dibawa ke Mataram. Raden Praseno kelak dikenal sebagai Cakraningrat I.

Empat abad lebih telah berlalu. Namun jejak pengorbanan itu, menurut Bustomi, belum mendapatkan tempat layak. Makam Adipati Mertosari berada di Tokabuh, Desa Karangselum, bersama ribuan warga Sampang lain yang gugur, tanpa penanda sebagaimana pahlawan yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Kegelisahan itulah yang dituangkan Bustomi dalam puisinya. Puisi tersebut menjadi suara bagi sejarah yang dibungkam waktu, sekaligus pengingat bahwa kepahlawanan tidak selalu tercatat dalam dokumen negara.

Berikut petikan puisi Pahlawanku Adipati Mertosari karya R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo:

PAHLAWANKU ADIPATI MERTOSARI

Pada awal abad ke tujuh belas

Sampang pun adalah medan perang puputan

Lantaran Adipati Mertosari tetap kukuh perkasa

Menantang puluhan ribu tentara

Tak sudi berlutut di bawah cengkeraman invasi Mataram

Gugur menyabung nyawa

Bersimbah darah dan air mata

Adipati Mertosari

Biar jasadmu kini terserak bersama ribuan syuhada

Terkubur di antara reruntuhan ingatan

Di antara hiruk pikuk modernitas

Di antara beribu generasi yang kehilangan etika

Andaikan aku boleh menggugat

Entah kutujukan buat siapa

Ataukah harus mengubur mimpi

Dalam teriakan sekarat

Beribu luka yang kian perih

Yang tak punya kuasa menembus dinding waktu

Yang kian kaku membisu

Adipati Mertosari

Kau tetap pahlawanku

Kendati tak pernah tertulis dalam dokumen negara

Tenggelam di antara narasi simbolik

Pada jubah kuasa entah siapa

Tapi prasasti rohmu

Tak kan pernah turun dari panggung heroik

Goresan tinta emas yang tetap teruji

Oleh deras arus zaman

Yang kian jalang menerkam

Bagi Bustomi, puisi ini bukan penutup, melainkan pembuka percakapan. Sebuah harapan agar pemerintah dan masyarakat kembali menoleh ke sejarah lokal, merawat makam, sekaligus merawat ingatan. Sebab, menurutnya, daerah yang melupakan pahlawannya sedang perlahan melupakan jati dirinya sendiri.

Rekomendasi Berita