Salam untuk Negeri Margasatwa Baca Kegelisahan Bangsa
- 08 Jan 2026 13:20 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang: Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi, menyampaikan refleksi sosial dan lingkungan melalui puisi berjudul Salam untuk Negeri Margasatwa. Karya sastra tersebut dibacakan sebagai bentuk pembacaan kondisi negeri melalui bahasa simbolik dan metafora.
Puisi itu menggambarkan sebuah negeri yang disebut memiliki tanah air, namun dinarasikan kehilangan tanah dan air. Gambaran tersebut disampaikan sebagai potret krisis yang terjadi akibat perubahan lingkungan dan perilaku manusia.
Dalam bait awal puisinya, Bustomi menuliskan kondisi tanah yang tersisa sebagai debu tambang. Air digambarkan telah berubah menjadi comberang, seiring hilangnya hutan di tengah kerakusan yang terus berlangsung.
“Jika negeri ini adalah belantara margasatwa yang dikatakan punya tanah air, tapi tak punya tanah dan juga tak punya air,” tulis Bustomi dalam puisinya, Kamis (8/1/2026).
Ia menggunakan metafora belantara margasatwa sebagai simbol kehidupan bernegara. Negeri digambarkan memiliki beragam potensi, namun potensi tersebut tidak dapat dijalankan sebagaimana mestinya.
Kondisi itu digambarkan melalui simbol-simbol keterbatasan. Bustomi menuliskan negeri yang memiliki taring namun tak bisa menggigit, memiliki tanduk namun tak mampu menyeruduk.
“Punya kuku tapi tak bisa mencengkeram,” tulisnya dalam lanjutan puisi, menggambarkan ketidakberdayaan di tengah kepemilikan kekuatan yang seharusnya bekerja.
Simbol tersebut berlanjut dengan gambaran sayap yang tak bisa terbang, bisa yang tak mampu menyengat, dan suara yang tak dapat mengaum. Ia menyebutnya sebagai negeri tanpa panji-panji.
Pada bagian akhir, Bustomi menyinggung kondisi ketika suara lama dibungkam dan perjuangan dianggap sebagai pemberontakan. Ia juga menggambarkan langit yang keruh dan coklat kusam, hati yang membatu, namun nurani yang masih mengalirkan darah dalam erang tangis panjang tanpa suara.
Melalui Salam untuk Negeri Margasatwa, Bustomi menyampaikan catatan reflektif tentang kondisi negeri. Puisi tersebut menjadi ruang pembacaan kegelisahan sosial dan lingkungan yang terus berlangsung.
Isi puisi Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi
SALAM UNTUK NEGERI MARGASATWA
Kawan.....
jika negeri ini adalah belantara margasatwa
yang dikatakan punya tanah air
Tapi tak punya tanah
dan juga tak lunya air
lantaran tanah yang tersisa adalah debu tambang
lantaran air sudah jadi comberang
pada raibnya hutan di ketiak kerakusan
Kawan,.
Lalu apa artinya
punya taring tapi tak bisa menggigit
punya tanduk tapi tak bisa menyeruduk
punya kuku tapi tak bisa mencengkeram
punya sayap tapi tak bisa terbang
punya bisa tapi tak bisa menyengat
punya suara tapi tak bisa mengaum
barangkali inilah negeri banci tanpa panji-panji
Kawan..
Ketika suara lama dibungkam
ketika perjuangan dianggapnya pemberontakan
ketika tiang bambu runcing tanpa sangsaka
ketika setiap langkah
harus ditelan gempita derap langkah yang begitu asing
Ketika langit kian keruh dan coklat kusam
ketika hati kian membatu
tapi nurani masih juga mengalir darah
dalam erang tangis panjang tanpa suara
Belum sadar jugakah kawan ?
jika diri jadi penonton sekaligus budak belian
di bawah jajaran prasasti pada gurun kerontang
sambil tengadah wajah yang letih
inilah resah gelisah
dan desah nafas pada dada yang lama tertikam
Barangkali tinggal menunggu suara langit
berharap sepatah jawaban
agar bisa mengganti konsideran hukum rimba
hukum yang kehilangan kebenaran
Kawan ........
Selamat bernaung pada payung kuasa
pada negeri tanpa daulat etika
Pada belantara yang sedang mengimpor gelar wibawa
di tengah kepungan lahar malapetaka
Kawan........
kepada siapa saja kami harus bertanya ?
pastilah gampang ditebak
lantaran jawabannya pasti kalimat tanya juga
pada lingkaran kurva yang tak berujung
pada labirin perdebatan
yang saling tuding
antar sesama telunjuk yang sama-sama terluka