Dari Sepeda Butut di Ujung Desa Lahirkan Jaring Pengaman Finansial

  • 21 Jun 2026 18:52 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Di ujung pesisir utara Kabupaten Sampang, Madura, tepatnya di Desa Tobai Barat, Kecamatan Sokobenah, berdiri di atas tanah tandus yang hanya menunggu hujan. Sawah tadah air, kebun sederhana, dan kandang kecil menjadi saksi perjuangan warganya. “Hidup di sini harus sabar,” bisik Mannan seorang petani tua, menatap langit yang sudah mulai kemarau.

Dari desa yang jauh dari pusat pemerintahan itu, seorang pemuda bernama Syamhaji (32) memulai langkah kecil dengan sepeda Vega senilai Rp6 juta. Tahun 2015, ia memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR BRI Rp5 juta, meski awalnya enggan menerima tawaran menjadi agen BRILink.

BACA JUGA: Kisah Mantan TKI Berlabuh ke Jembatan Keuangan Desa

“Terpaksa saya jadi agen, malu kalau menolak terus,” kenangnya dengan senyum sederhana. Minggu, 21 Juni 2026.

Kini, papan bertuliskan “AGEN RESMI TIKET PESAWAT MAS AJI” berdiri di depan toko kecil yang ia kelola bersama sang istri, Horiyah (31), seorang guru desa. Dari konter pulsa bermodal Rp1 juta, agen itu tumbuh menjadi denyut baru di Desa Tobai Barat, tempat membayar listrik, membeli pulsa, hingga menerima kiriman dari anak di Rantau.

Toko BRILink Mas Aji yang berada di samping rumahnya

“Saya ingin orang sini tidak perlu jauh-jauh ke kota,” ucap Syamhaji singkat. Dari balik etalase, ia membuktikan bahwa kepercayaan adalah modal paling berharga. Agen BRILink MAS AJI pun menjelma menjadi jaring pengaman finansial bagi petani, pekebun, peternak, hingga keluarga pekerja migran.

BACA JUGA: Perjuangan Perempuan Pasar, Menolak Tunduk pada Keterbatasan

Belajar dari Nol

Mesin EDC yang diterima bahkan sempat dijadikan mainan anak-anak karena ia tak tahu cara mengoperasikan. Tanpa pelatihan, ia belajar sendiri, mencoba top-up pulsa, hingga akhirnya bisa melakukan transfer. Perlahan, warga mulai datang. Dua tahun kemudian, transaksi harian mencapai Rp200 juta. Dari Modal pinjaman KUR BRI Rp5 juta, naik menjadi Rp10 juta, Rp20 juta, hingga kini limitnya Rp300 juta.

“Dulu saya gratiskan, tidak ada biaya sepeserpun. Kadang ambil uang di ATM sampai jam 12 malam, karena siang antri. Tapi orang percaya, itu yang jadi modal utama,” tuturnya.

Ujian Kepercayaan

Perjalanan ini penuh ujian. Pernah seorang nasabah menarik Rp13 juta, transaksi tercatat “sukses” tetapi uang tak sampai ke tujuan. Nasabah panik, bahkan sempat membawa celurit. Syamhaji tetap tenang, meminta maaf, menghubungi BRI, dan menunggu. Lima hari kemudian, dana masuk.

“Alhamdulillah, orangnya akhirnya bilang terima kasih,” kenangnya.

BACA JUGA: Keseruan Kopdar Akbar BRILink RO Surabaya, Jejak yang Tak Pernah Padam

Ada pula kerugian besar, salah transfer, dana hilang, hingga total mencapai Rp90,8 juta. Semua ia hadapi dengan sabar.

Toko BRILink Mas Aji tammpak depan

Tantangan Sosial

Di desa, keberadaan agen sering dianggap tanda “orang kaya”. Banyak tetangga mencoba meminjam uang, mengira modal usaha berasal dari kantong pribadi.

“Saya bilang, mohon maaf, ini uang pinjaman dari BRI, saya bayar bunga. Masa saya harus meminjamkan lagi dengan bunga yang saya tanggung sendiri,” ujarnya. Beberapa pinjaman kecil bahkan tak pernah kembali.

BACA JUGA: Kisah BRILink Murah Jaya Langsung Melejit Kelas Juragan

Dari Juragan ke Jawara

Kini, Agen BRILink MAS AJI berada di kelas Jawara. Dulunya sempat mencapai kelas Juragan, namun dengan banyaknya agen baru dan kebijakan bank mendorong penggunaan aplikasi BRImo, transaksi tunai menurun.

“Kalau di sini rata-rata tarik tunai, karena banyak keluarga TKI dari Arab Saudi, Malaysia, sampai Kalimantan. Tapi sejak ada BRImo, banyak yang langsung tarik sendiri. Transaksi saya menurun, tapi niat saya tetap: berbisnis sambil beramal,” katanya.

Berkembang Menjadi Pengusaha

Meski begitu, Syamhaji terus berkembang. Ia kini memiliki minimarket dengan tiga karyawan, serta satu karyawan khusus di agen BRILink.

“Alhamdulillah, sekarang saya bisa membuka lapangan kerja. Sukanya itu, ketika pencairan bisa membantu masyarakat,” ujarnya dengan mata berbinar-binar.

Peran di Paguyuban

Sebagai bendahara Paguyuban BRILink Kabupaten Sampang sekaligus koordinator wilayah Pantura, Syamhaji menjadi rujukan bagi calon agen baru.

“Setiap ada yang mau daftar, konfirmasi ke saya dulu. Tidak mudah jadi agen, harus tekun, siap saldo, dan siap tunai. Kalau tidak, sulit bertahan,” pesannya.

Infografis BRILink Mas Aji

Suara Istri dan karyawan

Di teras toko sederhana itu, dua sosok penting istri dari Syamhaji dan karyawannya terlihat menebar senyum hangat sang Istri mengaku bangga atar perjuangan suaminya.

“Saya bangga melihat perjuangan suami. Dari menghadapi nasabah yang marah, sampai menanggung kerugian. Semua dijalani dengan sabar demi membantu masyarakat semoga menjadi ladang amal.”

Sementara itu, Hofifinnor salah seorang karyawannya sambari merapikan berkas transaksi, ia menuturkan, “Saya betah bekerja di sini. Suasananya kekeluargaan, dan pekerjaan ini sangat membantu perekonomian keluarga saya.”

Apresiasi dari BRI

Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BO BRI Sampang, Vini Dwi Jayanti, menilai konsistensi Syamhaji sebagai agen BRILink patut diapresiasi. Menurutnya, meski banyak agen baru bermunculan di sekitar lokasi, Syamhaji tetap bertahan di kelas Jawara.

“Dulu sempat Juragan karena lokasinya jauh dari bank dan jalan raya. Sekarang setiap satu kilometer ada agen lain, tapi Mas Haji tetap konsisten di Jawara. Itu luar biasa,” ujarnya.

Vini menambahkan, keunggulan Syamhaji terletak pada kepercayaan pelanggan.

“Banyak tetangganya yang merantau menitipkan uang kepadanya, dan itu dimanfaatkan untuk transaksi BRILink. Selain itu, komunikasi dengan masyarakat maupun BRI juga lancar. Sebagai bendahara Paguyuban BRILink dan koordinator Pantura, Mas Aji membantu agen-agen di daerah Pantura terhandle dengan baik,” ucapnya dengan ramah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....