Tim PKH Ungkap Kendala Penjangkauan Calon Siswa Sekolah Rakyat di Sampang
- 29 Jun 2026 08:59 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Tim Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial (Kemensos) Kabupaten Sampang membeberkan sejumlah kendala krusial dalam proses penjangkauan siswa Sekolah Rakyat (SR), khususnya untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Selain faktor administrasi, tantangan terberat justru muncul dari benturan pola pikir (mindset) orang tua dan beban psikologis anak di lapangan.
Anggota Tim Pendamping PKH Kemensos wilayah Sampang, Rohman Rohim, menjelaskan bahwa salah satu hambatan terbesar pada jenjang SD adalah keengganan orang tua untuk melepas anak-anak mereka yang masih di bawah umur untuk tinggal di asrama SR yang menerapkan sistem boarding school ala pesantren.
"Melepaskan anak usia SD oleh orang tua itu dirasa sangat berat karena mereka masih kecil dan membutuhkan sosok orang tua di rumah. Ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi kami di lapangan," ungkap Rohman, Senin 29 Juni 2026.
Baca: https://rri.co.id/sampang/asta-cita/2523698/merajut-asa-anak-yatim-piatu-dari-sekolah-rakyat
Untuk mengatasi kendala ini, tim pendamping sering kali menggunakan strategi penjangkauan paralel atau "tanggung renteng" dalam satu keluarga. Jika dalam satu rumah tangga terdapat anak usia SMP atau SMA yang terjaring masuk SR, petugas akan merayu orang tua agar adik mereka yang usia SD juga ikut didaftarkan. Keberadaan kakak di asrama yang sama terbukti mampu memberikan rasa tenang dan melunakkan sikap defensif orang tua.
Selain faktor kedekatan emosional, Rohman memaparkan fenomena miris di mana banyak orang tua dari keluarga prasejahtera (desil 1 dan desil 2) yang memiliki prinsip terlalu membebaskan anak atau pasrah pada keinginan anak (apa ca'e pon nak-kanak). Hal ini memicu tingginya angka anak putus sekolah sejak dini.
Baca juga: https://rri.co.id/sampang/regional/2510119/sekolah-rakyat-terapkan-pendidikan-agama-dan-karakter
Rohman menceritakan salah satu kasus ekstrem yang ditemuinya di lapangan, di mana dari sebuah keluarga dengan tujuh anak, hampir seluruhnya mengalami putus sekolah, bahkan ada yang berhenti saat baru menduduki kelas 2 SD. Setelah ditelusuri, faktor pemicunya kerap kali berkaitan dengan masalah sosial dan psikologis, seperti korban perundungan (bullying).
"Ada anak dampingan kami yang trauma dan mogok sekolah karena mendapatkan perundungan yang sensitif mengenai latar belakang keluarganya. Ketika anak mengalami tekanan seperti ini dan tidak mau sekolah, orang tua cenderung langsung pasrah dan membiarkan mereka putus sekolah begitu saja," kata Rohman.
Hingga saat ini, proses penjangkauan untuk jenjang SD masih terus dibuka sampai masa pleno penetapan final. Hal ini dikarenakan jumlah calon siswa SR tingkat SD masih belum memenuhi kuota sebanyak 90 orang. Dari data riil di lapangan, tercatat baru ada 34 anak yang datanya dinyatakan lengkap secara administratif, sementara 17 anak lainnya masih dalam proses melengkapi berkas, sehingga total jangkauan sementara berada di angka 51 anak dari target yang ditetapkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....