Merajut Asa Anak Yatim Piatu dari Sekolah Rakyat

  • 26 Jun 2026 21:37 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang – Di sebuah rumah tua di Desa Angsokah, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, langit bersinar terik dengan desau angin menelisik pepohonan jati. Di halaman rumah, tampak kacang hijau dengan kulitnya hasil buruh tani kemarin sedang dijemur di halaman. Seorang nenek tua, memandangnya dengan penuh harap kacang hijau itu bisa segera dijual untuk menyambung kebutuhan sehari- hari.

"Nazriel... Cong... semoga kelak bisa hidup tidak melas dan bahagia, lebih baik dari Embah, " sebuah doa terucap lirih dan penuh harap tergambar di mata tua Rumsaini (68).

Senyumnya sontak merekah saat rombongan tim verifikasi calon siswa Sekolah Rakyat datang berkunjung. Tim verifikasi dari PKH Kemensos wilayah Sampang, Dinsos PPPA dan Badan Pusat Statistik berkunjung untuk memastikan kondisi riil calon siswa. Beberapa waktu lalu sebagian dari mereka sering datang mengatakan ada Sekolah Rakyat untuk cucunya sekolah.

"Kami tinggal bertiga, Nazril menjadi yatim sejak umur 6 tahun, setahun kemudian ibunya menyusul. Sedangkan sepupunya, ditinggal cerai orang tuanya, ibunya menikah lagi, dan ayahnya tidak bisa merawat karena cuma diam dengan tatapan kosong karena masalah kejiwaan. Kalau saya sudah waktunya dipanggil Allah, dengan siapa mereka akan tinggal, " cerita Rumsaini terbata pada tim gabungan verifikasi calon siswa SR, Kamis m, 25 Juni 2026.

Anggota Tim PKH Sampang, Rohman Rohim, menuturkan kisah yang menyayat hati."Kami menyaksikan sendiri bagaimana pendidikan sering kali menjadi kemewahan yang terbuang. Anak-anak miskin ekstrem, sebagian terlantar, sebagian putus sekolah, seakan tak lagi punya ruang untuk bermimpi,” ucapnya lirih.

Sasaran calon siswa yang dijangkau Rohman adalah anak dalam keluarga ekonomi terbawah yaitu miskin ekstrem dan miskin di desil 1 dan 2 DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional)

"Ada yang broken home, ada yang korban bulliying, tidak sedikit yatim piatu, serta banyak yang putus sekolah. Mereka fakir miskin dan anak terlantar, merekalah sasaran penjangkauan kami yang berhak bersekolah di Sekolah Rakyat," tutur Rohman.

Selama satu setengah bulan, perjalanan itu menjadi semacam ziarah kecil, mengetuk pintu rumah, merajut dialog dengan orang tua, membujuk anak-anak yang semangat belajarnya telah padam. Mereka datang bukan hanya membawa program, melainkan amanah besar menjalankan UUD 1945 pasal 34, bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

“Sesuai arahan Menteri Sosial, Sekolah Rakyat didesain sebagai jaring pengaman terakhir bagi mereka yang benar-benar kehilangan akses Pendidikan,” kata Rohman dalam perbincangan itu.

Di Sampang, angka itu begitu mencengangkan, 49.000 anak rentan maupun putus sekolah tersebar di 14 kecamatan. Tim PKH hadir sebagai jembatan, mengajak mereka kembali ke jalur pendidikan. Hingga kini, baru 51 calon siswa SD yang bersedia bergabung dari kuota 90 orang. Meski antusias di tingkat SD belum maksimal, semangat itu tidak pernah surut.

"Memang tidak mudah bagi orang tua melepas buah hati di bawah usia 12 tahun untuk sekolah model asrama. Tapi semua membutuhkan waktu, mereka juga butuh keyakinan. Semoga setelah pembelajaran berjalan, keraguan itu luruh, dan lebih banyak anak berani merajut masa depan," ujarnya, menambahkan.

Sekolah Rakyat bukan sekadar ruang belajar. Ia adalah pintu kedua bagi anak-anak yang hampir kehilangan masa depan. Di sana, mereka bukan hanya diajak membaca dan berhitung, tetapi juga dibekali kemandirian, peluang kerja, bahkan kesempatan menuju perguruan tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....