Menuntut Inklusi di Rumah Ibadah

  • 06 Mar 2026 04:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Di zaman yang serba modern, isu mengenai kesetaraan bagi penyandang disabilitas ternyata masih menyisakan tanda tanya besar. Hal ini juga terlihat dalam aksesibilitas spiritual.

Pemenuhan hak bagi teman-teman disabilitas untuk menjalankan ibadah dan mendapatkan materi keagamaan dinilai masih sangat terbatas. Terutama di bulan suci Ramadan dimana umat Islam identik melakukan ibadah puasa dan memperbanyak beribadah ke masjid.

Hal ini disampaikan oleh Dedy Priansyah dari Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia Kalimantan Timur dalam siaran Ruang Disabilitas RRI. Ia menyoroti betapa sulitnya penyandang disabilitas sensorik terutama mendapatkan ilmu agama yang mendasar.

"Faktanya, teman-teman yang tuna netra atau rungu, ada yang tidak tahu rukun Islam itu ada lima atau rukun iman itu ada enam. Itu fakta yang nyata terjadi karena akses materi keislaman sangat kurang," kata Dedy.

Menurutnya, ketimpangan ini sangat terasa dalam acara-acara besar seperti tabligh akbar. Dedy menyayangkan minimnya inisiatif penyelenggara untuk menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI) bagi jamaah tuli.

"Karena itu kami selalu memperjuangkan ayo dong MUI bikin pelatihan misalnya JBI gitu. Untuk ustaznya doang misalnya, jadi kalau ustaznya sesekali ceramah nih gitu kan, kumpulin deh. Nanti pesertanya dari kita," ujarnya.

Tak hanya dari sisi dakwah, kendala fisik di bangunan masjid juga menjadi tembok besar bagi penyandang disabilitas fisik. Dedy mengkritisi desain arsitektur masjid-masjid besar yang masih didominasi oleh tangga tinggi tanpa adanya fasilitas ramp (jalur landai) yang memadai bagi pengguna kursi roda.

Ia juga menekankan bahwa fasilitas seperti tempat wudu dan toilet khusus disabilitas adalah kebutuhan primer, bukan sekadar pelengkap bangunan. Ketimpangan fasilitas ini tentunya menimbulkan perasaan ketidakadilan spiritual di kalangan penyandang disabilitas.

Rekomendasi Berita