MUI Kaltim Ajak Umat Islam Maknai Puasa sebagai Jalan Pulang
- 28 Feb 2026 15:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Memasuki hari ke-10 Ramadan, Koordinator Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur, Selamat Said Sanib, mengajak umat Islam memaknai puasa sebagai proses kembali pulang. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi perjalanan untuk kembali kepada fitrah dan keridaan Allah.
Menurut sosok yang juga dikenal sebagai penulis, public speaker, dan penyair ini Ramadan yang datang setahun sekali harus dimaknai sebagai waktu untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan hidup.
Ia menekankan, momen ini adalah kesempatan untuk merenung. Setiap orang bisa bertanya pada diri sendiri, selama ini lebih banyak berjalan di jalan ketakwaan atau justru di jalan yang tidak diridai Allah Subhanahu Wa Taala.
“Di sinilah kesempatan kita untuk kembali proses perenungan. Kita lihat perjalanan kita selama ini seperti apa,” katanya.
Selamat menjelaskan, hidup pada dasarnya adalah perjalanan pulang dan puasa mengarahkan manusia untuk kembali kepada fitrahnya. Namun, pulang yang dimaksud bukan kembali ke rumah, melainkan kembali kepada keridaan Allah dan ke haribaan-Nya.
“Setiap perjalanan itu perjalanan kembali pulang. Bukan pulang ke rumah, tapi kembali kepada keridaan-Nya. Kita ini sebenarnya selalu dipanggil, wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan tentang magfirah atau ampunan Allah yang luasnya seperti langit dan bumi. Pesan untuk kembali itulah yang menjadi inti puasa. Dari situ tumbuh kesadaran spiritual agar manusia lebih dekat kepada Tuhannya.
Namun ia menegaskan, makna puasa tidak hanya fokus pada ibadah spiritual saja. Al-Qur’an selalu menyandingkan iman dengan amal saleh. Artinya, setelah beriman, seseorang harus menunjukkan kepedulian melalui kerja-kerja kemanusiaan.
“Tidak cukup orang hanya beriman. Al-Qur’an selalu mengatakan ‘Wa amilus sholihati’. Itu artinya ada kerja-kerja kemanusiaan. Di situlah nilai kepekaan sosial kita,” ujarnya.
Melalui pemaknaan seperti itu, puasa tidak terasa sebagai beban. Sebaliknya, puasa menjadi jalan untuk memperbaiki diri, menguatkan spiritual, dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama selama Ramadan.