Kisah Inspiratif Ambara Cita, Dari Lampung ke Samarinda
- 16 Feb 2026 13:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perjalanan literasi inklusi tidak hanya lahir dari gagasan, tetapi juga dari pengalaman dan panggilan hati. Lina Oktaviani, yang juga berprofesi sebagai guru di Tenggarong, bersama Lismia Nabilla, berbagi cerita tentang lahirnya komunitas Ambara Cita. Komunitas ini menjadi ruang belajar dan berbagi bagi anak-anak, termasuk mereka yang membutuhkan pendekatan pendidikan inklusif.
Mia menjelaskan, Ambara Cita tergolong komunitas baru. Komunitas tersebut ia dirikan setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Setelah lulus, ia kembali ke kampung halamannya di Lampung dan mulai mengabdi sebagai guru di sebuah madrasah swasta.
“Ambara Cita ini baru berjalan sekitar tiga bulan di Samarinda, tetapi sebenarnya pertama kali lahir di Lampung pada Maret 2025,” ujar Mia kepada RRI, dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro1 Samarinda, dikutip Senin 16 Februari 2026.
Di madrasah tersebut, lanjut Mia, ia menemukan pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan inklusif. “Ada seorang siswa kelas IV yang memiliki hambatan kognitif dan belum mampu membaca serta menulis. Padahal, pada jenjang itu seharusnya kemampuan membaca dan menulis sudah menjadi dasar. Dari situlah saya terinspirasi membangun Ambara Cita,” ujarnya.
Menurutnya, regulasi pendidikan saat ini mendorong sekolah reguler untuk menerima peserta didik disabilitas. Namun, tidak semua sekolah memiliki kesiapan dan sumber daya yang memadai. “Saya mengajar tambahan sepulang sekolah hingga sore hari demi membantu anak tersebut. Dari situ saya sadar, harus ada ruang belajar yang lebih inklusif,” katanya. Ambara Cita pun lahir sebagai inisiatif pribadi yang dijalankan secara mandiri di desa.
Dalam perjalanannya di Lampung, komunitas tersebut sempat mendapatkan dukungan berupa distribusi buku dari Perpustakaan Nasional. Anak-anak di desa menunjukkan antusiasme tinggi. Namun, keterbatasan dukungan relawan membuat Ambara Cita tidak dapat berjalan lama di sana. Ia mengakui gerakan sosial membutuhkan kolaborasi dan kesamaan visi.
Kesempatan baru hadir ketika ia pindah ke Samarinda. Di kota ini, ia mengikuti pelatihan bahasa isyarat di balai pelatihan kerja dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat serupa terhadap literasi dan inklusi. “Kami berkumpul dan sepakat membangkitkan kembali Ambara Cita. Malam itu juga langsung menyusun program,” ucapnya dengan penuh semangat.
Program perdana digelar di Kampung Ketupat pada Desember 2025 lalu dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Kini, Ambara Cita memiliki sekitar 35 relawan dengan latar belakang beragam, mulai dari guru, dosen, hingga pegiat literasi. Komunitas ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk belajar, bercerita, dan merasa diterima tanpa diskriminasi.
Dari desa di Lampung hingga berkembang di Samarinda, semangat kerelawanan dan kepedulian sosial menjadi fondasi utama. Perjalanan ini sekaligus menegaskan pendidikan inklusif bukan sekadar konsep, melainkan gerakan nyata yang memberi ruang setara bagi semua anak bangsa.