Ketua MPR Ingatkan Nilai Kemanusiaan dalam Jurnalisme

  • 14 Jan 2026 09:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta: Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani menegaskan, jati dirinya sebagai wartawan tidak pernah hilang, meski kini mengemban amanah sebagai pimpinan lembaga negara. Hal itu disampaikannya saat menerima audiensi Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (13/1/2026) sore.

Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan reflektif, dengan pembahasan seputar makna profesi wartawan sebagai panggilan nurani serta peran strategis pers dalam kehidupan kebangsaan.

Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Muzani mengenang perjalanan awalnya di dunia jurnalistik. Ia bercerita pernah mengikuti ujian wartawan muda PWI DKI Jakarta pada 1991, dengan satu pertanyaan yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya.

“Salah satu pertanyaannya, jika saat meliput kita menemukan kecelakaan di jalan, mana yang didahulukan, menolong korban atau menulis berita?” ujar Muzani.

Ia mengaku memilih menolong korban terlebih dahulu sebelum menulis berita. Bagi Muzani, nilai kemanusiaan harus selalu ditempatkan di atas kepentingan apa pun. Dari proses tersebut, ia dinyatakan lulus sebagai wartawan muda PWI.

“Menjadi wartawan bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hati. Artinya, berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah,” kata Muzani, yang pernah menjadi wartawan Majalah Amanah dan penyiar Radio Ramako.

Menurutnya, esensi jurnalistik adalah memperjuangkan kebenaran dan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Nilai itu, kata dia, harus tetap hidup meskipun seseorang telah beralih peran.

“Saya tidak pernah merasa terpisah dari wartawan. Hati saya sampai sekarang masih wartawan,” ujarnya.

Muzani juga mengingatkan kembali nilai-nilai dasar PWI yang dirumuskan sejak Kongres PWI 1946 di Solo, yang menempatkan pers sebagai alat perjuangan dan pengabdian kepada bangsa dan negara.

“Di PWI, wartawan disebut pejuang karena memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi,” ujarnya.

Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menyambut baik refleksi yang disampaikan Ketua MPR RI tersebut. Menurutnya, kisah tersebut menjadi pengingat penting bagi insan pers tentang esensi sejati profesi wartawan.

“Apa yang disampaikan Ketua MPR menunjukkan bahwa jurnalisme sejati selalu berpijak pada kebenaran dan kemanusiaan. Nilai-nilai inilah yang terus dijaga PWI,” ujar Munir yang juga Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara.

Munir menambahkan, PWI hingga kini tetap merawat nilai-nilai luhur para pendiri sebagai rumah besar wartawan Indonesia yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PWI Pusat Zulmansyah Sekedang menyampaikan bahwa audiensi ini juga menjadi bagian dari komunikasi PWI dengan pimpinan lembaga negara menjelang pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten.

“Kami secara resmi mengundang Ketua MPR RI untuk hadir pada peringatan Hari Pers Nasional. Kehadiran beliau tentu menjadi kehormatan dan penguat semangat insan pers,” kata Zulmansyah yang juga Ketua Panitia HPN 2026.

Ia menegaskan, HPN merupakan momentum refleksi bersama antara pers dan negara dalam menjaga demokrasi, persatuan, serta kepentingan nasional.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Muzani juga menyinggung perubahan lanskap jurnalistik di era digital, di mana peran pewarta kini turut dijalankan oleh masyarakat dan konten kreator.

“Dari pemberitaan mereka, kita bisa mengetahui masih ada bantuan yang belum sampai atau penanganan yang belum optimal,” ujarnya.

Audiensi tersebut turut dihadiri jajaran Pengurus PWI Pusat, di antaranya Bendahara Umum Marthen Selamet Susanto, Ketua Bidang Kemitraan dan Kerja Sama Ariawan beserta wakilnya Kadirah, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Irfan Junaidi, Wakil Sekretaris Jenderal Haryo Ristamadji, serta sejumlah ketua departemen dan pengurus lainnya.

Rekomendasi Berita