Tradisi Megengan dan Suasana Ramadan di Kediri

  • 12 Mar 2026 12:23 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga menghadirkan berbagai tradisi dan kebiasaan yang mempererat kebersamaan masyarakat. Di berbagai daerah di Indonesia, Ramadan selalu diwarnai dengan kegiatan khas, mulai dari tradisi menyambut bulan suci, kebiasaan berbagi makanan, hingga hadirnya berbagai kuliner yang menjadi favorit saat berbuka puasa.

Dakam Program Kesah Ramadan, pendengar diajak mengenal beragam cerita dan pengalaman masyarakat dari berbagai daerah tentang bagaimana mereka menjalani Ramadan. Kali ini hadir sebagai narasumber Fabia Nurmauli, yang akrab disapa Febi. Ia berasal dari Solo dan kini menetap di Kediri, Jawa Timur setelah menikah. Febi menggambarkan suasana Ramadan di Kediri yang terasa hangat dan penuh kebersamaan. “Kalau mendengar kata Ramadan, yang terlintas itu bulan penuh rahmat, kekeluargaan, dan solidaritas yang tinggi. Kesabaran juga terasa lebih ditingkatkan,” ujarnya, pada Kamis 12 Maret 2026.

Menurut Febi, suasana Ramadan di Kediri terasa lebih tenang karena masyarakat cenderung lebih sabar dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ia mengatakan bahwa kondisi jalan yang biasanya macet pun tetap terasa lebih tertib selama bulan puasa. “Kalau semisal waktu bulan Ramadan itu macet-macet, orang-orang pada sabar. Jarang ada yang marah-marah seperti di bulan-bulan selain Ramadan,” ucapnya.

Salah satu tradisi yang masih dijaga masyarakat Kediri menjelang Ramadan adalah Megengan, yaitu tradisi berkumpul dan berdoa bersama sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi ini biasanya diisi dengan kegiatan berbagi makanan kepada tetangga atau berkumpul di masjid untuk berdoa bersama. “Megengan itu biasanya orang memberikan besek atau berkat yang isinya nasi rames, ayam, mie, dan yang paling penting ada kue apem,” kata Febi.

Selain tradisi tersebut, suasana Ramadan di Kediri juga semakin semarak dengan hadirnya kampung kuliner Ramadan, yang menjadi tempat berkumpulnya para pelaku UMKM untuk menjual berbagai makanan dan minuman berbuka puasa. Menurut Febi, keberadaan kampung kuliner ini memudahkan masyarakat mencari takjil sekaligus membantu meningkatkan ekonomi warga. “Jadi satu tempat itu disulap menjadi tempat jualan para UMKM warga sekitar. Selain membantu warga mencari takjil, juga memajukan UMKM daerah,” ujarnya.

Beragam kuliner khas Kediri juga menjadi daya tarik tersendiri selama Ramadan, seperti nasi tumpang yang disajikan dengan kuah tempe berbumbu rempah serta sayur rebus dan peyek. Selain itu, ada juga minuman segar bernama es gudir yang terbuat dari agar-agar, sirup merah, santan, dan kadang ditambahkan kelapa muda. “Nasi tumpang itu enak sekali, wajib dicoba kalau ke Kediri. Kalau minumannya ada es gudir yang manis dan gurih,” ucap Febi.

Febi berharap tradisi Ramadan di Kediri tetap terjaga oleh generasi muda. Ia menilai peran anak muda sangat penting dalam menjaga kekompakan dan semangat gotong royong di masyarakat. “Harapannya semoga generasi muda di Kediri tetap menjaga solidaritas, menjaga kekompakan, dan menjaga tradisi agar tidak punah terlupakan oleh waktu,” katanya.

Rekomendasi Berita