Menggali Makna Ramadan dan Toleransi dari Masyarakat Bali
- 12 Mar 2026 12:20 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi umat Muslim di berbagai daerah di Indonesia. Selain menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah, Ramadan juga identik dengan beragam tradisi, kebiasaan masyarakat, serta aneka hidangan khas yang hanya muncul pada bulan suci ini. Momentum tersebut tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga mempererat kebersamaan dalam keluarga dan masyarakat.
Dalam Program Kesah Ramadan yang disiarkan di Pro 4 RRI Samarinda, menghadirkan narasumber Artana Prihartanti yang membagikan pandangannya tentang makna Ramadan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Ramadan merupakan kesempatan bagi setiap orang untuk melakukan introspeksi diri serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, serta memperbanyak perbuatan baik.
Artana juga menyinggung bagaimana suasana Ramadan dirasakan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Bali. Meski dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, umat Muslim di Bali tetap dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan khusyuk. "Kehidupan masyarakat yang penuh toleransi membuat suasana Ramadan di Bali terasa hangat, dengan tetap terjaganya kerukunan antarumat beragama," katanya dikutip Kamis 12 Maret 2026.
Ia menjelaskan, selama Ramadan, umat Muslim di Bali juga memiliki kebiasaan berkumpul bersama keluarga saat sahur dan berbuka puasa. Berbagai hidangan khas seperti kolak pisang, es buah, hingga kue-kue tradisional sering menjadi menu berbuka. Selain itu, kegiatan berbagi makanan berbuka kepada tetangga maupun masyarakat sekitar juga menjadi tradisi yang memperkuat rasa kebersamaan.
Menurut Artana, semangat berbagi dan saling menghormati menjadi nilai penting yang tampak selama Ramadan, termasuk di daerah yang masyarakatnya beragam seperti Bali. Kebersamaan tersebut menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah secara pribadi, tetapi juga mempererat hubungan sosial di tengah keberagaman.
Di akhir, Artana berharap Ramadan dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk semakin memperkuat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga berharap kebiasaan baik yang dilakukan selama Ramadan, seperti berbagi, menjaga silaturahmi, serta meningkatkan ibadah, tidak hanya dilakukan di bulan suci saja tetapi dapat terus dilanjutkan setelah Ramadan berakhir.