Dari Tarakan, Mengabdi untuk Anak-Anak Sekolah Rakyat
- 02 Feb 2026 15:02 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang berada di Jalan Erry Suparjan, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara saat ini menampung 75 orang siswa. Mereka terdiri dari 50 siswa SD dan 25 siswa SMA yang datang dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Timur.
Selama di sekolah ini, anak-anak didampingi oleh 15 pengajar yang juga datang dari luar Kalimantan Timur. Menariknya, seluruh pengajar tersebut adalah generasi Z, salah satunya adalah Kasmianti.
Kasmianti tak pernah membayangkan jalannya akan berujung di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, Samarinda. Perempuan kelahiran tahun 2000 di Tarakan, Kalimantan Utara ini datang bukan dengan rencana besar, melainkan dengan satu niat, yakni mencoba.
Latar belakang pendidikannya adalah kimia. Namun di sekolah rakyat, ia memegang banyak peran. "Saya wali kelas SD, kelas tinggi. Kelas tinggi itu campuran, ada kelas 3, 4, 5, 6 dan juga mengajar SMA. Tapi sebenarnya background-nya kimia," ujar perempuan yang akrab disapa Kasmi itu, kepada rri.co.id.
Keputusan hijrah ke Kalimantan Timur berawal dari kegagalan ketika dirinya tak lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) reguler. Saat itulah informasi rekrutmen guru sekolah rakyat datang dari seorang teman. Ia mendaftar, tanpa ekspektasi lebih.
"Formasi yang tersedia ternyata bukan di Tarakan, melainkan Samarinda. Tapi ya karena saya domisilinya sebenarnya di sini, karena S1 pendidikan kimia di sini jadi terikut data yang sebelumnya," ucap Kasmi.
Adaptasi berjalan relatif mulus lantaran sama-sama berasal dari wilayah Kalimantan, budaya dan bahasa tak menjadi jurang. Apalagi Kasmi sudah lima tahun tinggal di Samarinda sebelumnya, ketika ia mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Mulawarman (Unmul).
Tantangan justru datang dari ruang kelas. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, Kasmianti berjumpa dengan anak-anak dari latar belakang yang tak biasa, sehingga diperlukan pendekatan mengajar yang berbeda pula.
Kasmi mengungkapkan, ada siswa yang kehilangan orang tua di usia belia, ada yang tumbuh di keluarga yang tercerai berai, ada pula yang memikul beban hidup terlalu berat untuk usia mereka.

Namun, tinggal dalam satu gedung membuat kebersamaan terasa lebih kental. Seusai jam mengajar, Kasmianti kerap duduk bersama siswa, sekadar berbagi cerita. Dari percakapan-percakapan kecil itulah ia menemukan alasan untuk bertahan.
"Kita tahu bersama kalau mereka ini punya keistimewaannya tersendiri. Itu sebenarnya yang membuat kami kayak Ya Allah. Tapi itu yang membuat kami jadi semangat kalau mengajar mereka di sekolah," kata Kasmi.
Bagi Kasmianti, mengajar di sekolah rakyat bukan lagi sekedar mencoba. Ini tentang menemani anak-anak yang sedang belajar memahami hidup, sambil perlahan belajar mengendalikan diri, mengikuti aturan, dan menemukan ritme mereka sendiri.
Ia berharap, anak-anak di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 tak patah semangat dan terus mengejar mimipi mereka yang sempat tertunda.
"Harapannya mereka juga harusnya bisa betah. Bisa belajar dengan baik," ucap Kasmi, mengakhiri.