UMKM Samarinda Kembangkan Produk Kayu Menggeris dengan Konsep Berkelanjutan

  • 10 Mar 2026 12:20 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Inovasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Timur tidak hanya berfokus pada kreativitas produk, tetapi juga pada aspek keberlanjutan lingkungan. Salah satunya dilakukan oleh Iendy Zelvian Adhari, pelaku industri kreatif yang mengolah kayu menggeris menjadi berbagai produk gaya hidup bernilai ekonomi tinggi.

Iendry menjelaskan, selain memanfaatkan sisa kayu yang sudah tumbang, pihaknya juga melakukan langkah keberlanjutan melalui program penanaman kembali pohon menggeris. Upaya ini dilakukan dengan bekerja sama dengan sejumlah pihak yang bergerak di bidang pembibitan tanaman.

“Kami sudah bekerja sama dengan pembibitan di Bukit Merdeka dan Mentawir untuk mendapatkan bibit pohon menggeris,” ujarnya dalam program UMKM Bicara di RRI Samarinda, dikutip Selasa 10 Maret 2026.

Ia mengatakan, sebagian dari hasil penjualan produk akan dialokasikan untuk kegiatan penanaman kembali pohon menggeris. Hal ini bertujuan menjaga ketersediaan pohon khas Kalimantan tersebut di masa depan. “Ketika masyarakat membeli produk Manggeris, secara tidak langsung mereka juga ikut mendukung program penanaman kembali pohon menggeris,” kata Iendy.

Menurutnya, pohon menggeris atau Kompasia excelsa merupakan tanaman yang tersebar di beberapa wilayah Asia Tenggara, seperti Sumatra, Kalimantan, Brunei, Malaysia, hingga Filipina Selatan. Namun, kayu menggeris dari wilayah Kutai Kartanegara memiliki karakter yang berbeda dibandingkan daerah lain. “Di Kutai Kartanegara serat kayunya lebih merah dan motifnya lebih terlihat, sehingga memiliki karakter yang sangat khas,” ucapnya.

Ia menjelaskan, warna merah yang semakin kuat pada kayu menggeris menandakan usia pohon yang sudah sangat tua, bahkan bisa mencapai ratusan tahun. Karakter inilah yang membuat kayu tersebut memiliki nilai estetika tinggi ketika diolah menjadi produk kerajinan. “Semakin merah warna kayunya, biasanya umur pohonnya juga semakin tua,” ujarnya.

Selain itu, pohon menggeris juga memiliki peran penting dalam ekosistem hutan. Banyak lebah hutan yang memanfaatkan pohon ini sebagai tempat bersarang untuk menghasilkan madu alami. “Biasanya lebah hutan Apis dorsata sering bersarang di pohon menggeris,” kata Iendy.

Dalam proses pengambilan bahan baku, timnya tidak menebang pohon hidup. Kayu yang digunakan berasal dari tunggul atau sisa akar pohon yang sudah tumbang dan tidak lagi dimanfaatkan. “Kami memanfaatkan bagian tunggul atau akar yang sudah tidak digunakan, kemudian dipilah dan diolah menjadi produk bernilai tinggi,” ujarnya.

Iendy menambahkan, pemilihan produk seperti jam tangan menjadi strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi dari bahan kayu tersebut. Menurutnya, produk berbasis seni memiliki fleksibilitas harga yang lebih tinggi dibandingkan produk kerajinan biasa. “Jam tangan ini termasuk karya seni, sehingga nilai tambahnya bisa jauh lebih tinggi,” ucapnya.

Dalam proses pencarian bahan baku, ia mengaku terkadang turun langsung ke lapangan untuk melihat potensi kayu yang bisa dimanfaatkan. Namun, untuk proses pengambilan biasanya dilakukan oleh tim khusus yang telah memahami lokasi dan kondisi lapangan. “Beberapa kali saya turun langsung ke lapangan, tetapi untuk eksekusi biasanya dilakukan oleh tim,” katanya.

Ke depan, pihaknya juga berencana meningkatkan standar sertifikasi agar seluruh proses pengambilan bahan baku dapat tercatat secara jelas. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan transparansi dan keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya alam. “Kami ingin memastikan setiap bahan baku memiliki titik koordinat yang jelas sehingga prosesnya tetap legal dan berkelanjutan,” ujar Iendy.

Rekomendasi Berita