Kayu Manggeris Jadi Identitas Produk Kreatif UMKM Samarinda
- 10 Mar 2026 12:02 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Industri kreatif berbasis bahan alam terus berkembang di Kalimantan Timur. Salah satunya terlihat dari inovasi produk gaya hidup berbahan kayu lokal yang kini mulai dikenal hingga pasar internasional. Kayu menggeris yang sebelumnya hanya dikenal sebagai bahan permainan tradisional kini diolah menjadi produk modern seperti jam tangan dan kacamata.
Owner Manggeris, Iendy Zelvian Adhari, menjelaskan nama “Manggeris” diambil dari jenis pohon menggeris yang menjadi bahan utama produknya. Kayu tersebut dikenal memiliki karakter kuat dan corak serat yang khas. “Kalau menggeris itu saya mengambil nama nasionalnya dari pohon menggeris. Bahasa latinnya Kompasia Excelsa,” ujarnya dalam program UMKM Bicara di Pro1 RRI Samarinda, dikutip Selasa 10 Maret 2026.
Ia mengatakan, pemilihan nama tersebut sekaligus menegaskan identitas bahan baku yang digunakan dalam produknya. Kayu menggeris memiliki warna merah kecokelatan dengan motif serat menyerupai emas sehingga memberikan kesan eksklusif. “Kayu ini memang sulit didapatkan dan memiliki karakter yang sangat kuat dibandingkan kayu lainnya,” kata Iendy.
Konsep yang diusung dalam produknya juga dituangkan melalui tagline “Supremewood Timeless Style.” Menurutnya, kata “supreme wood” merujuk pada kualitas kayu menggeris yang langka dan memiliki ketahanan tinggi. “Tagline supreme itu karena bahan bakunya memang kayu yang istimewa dan tidak mudah ditemukan,” ucapnya.

Sementara itu, konsep “timeless style” menggambarkan desain produk yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan dan tidak lekang oleh waktu. Produk seperti jam tangan kayu tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga dapat dijadikan cenderamata bernilai eksklusif. “Jam tangan kami bisa dijadikan suvenir atau hadiah untuk tamu penting, tetapi tetap bisa dipakai sehari-hari,” ujarnya.
Dalam proses produksi, Iendy menegaskan pihaknya tidak melakukan penebangan pohon untuk mendapatkan bahan baku. Kayu yang digunakan berasal dari bagian tunggul atau akar pohon yang sudah tumbang sehingga tidak merusak lingkungan. “Kami menerapkan prinsip non-deforestasi. Jadi kami tidak menebang pohon, tetapi memanfaatkan tunggul atau sisa kayu yang sudah rebah,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa bagian tunggul kayu justru memiliki serat paling indah dan kuat sehingga cocok dijadikan bahan kerajinan bernilai tinggi. “Bagian tunggul itu yang menyimpan serat kayu paling menarik dan kuat,” ucapnya.
Dalam mengembangkan produknya, Iendy juga menggabungkan keahlian desain dengan teknologi modern. Ia merancang sendiri desain produk, sementara proses pengerjaan dibantu oleh tiga pengrajin yang ahli dalam pengolahan kayu keras. “Untuk desain saya kerjakan sendiri, sementara pengerjaan teknis dibantu tiga pengrajin yang memahami karakter kayu,” ujarnya.
Selain itu, produk jam tangan yang dibuat juga menggunakan mesin berkualitas tinggi. Beberapa di antaranya menggunakan mesin otomatis dengan teknologi Japan movement yang setara dengan standar jam tangan internasional. “Kami menggunakan mesin dengan standar Jepang agar kualitas produknya tetap kompetitif di pasar global,” kata Iendy.
Melalui inovasi tersebut, ia berharap produk berbahan kayu khas Kalimantan dapat semakin dikenal luas. Menurutnya, pemanfaatan bahan lokal yang unik dapat menjadi kekuatan utama UMKM daerah untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional.