Transformasi Ekonomi Kukar Digenjot, UMKM dan Ekonomi Kreatif Jadi Andalan
- 21 Feb 2026 14:29 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samboja - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, terus mendorong penguatan sektor ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi daerah dari ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan menuju sektor yang berkelanjutan.
Selama ini struktur ekonomi Kukar masih ditopang sektor minyak dan gas bumi (migas) serta batu bara. Namun, menyadari sektor tersebut memiliki keterbatasan sumber daya, pemerintah daerah secara bertahap mengarahkan pembangunan pada sektor yang dapat diperbarui dan dikembangkan dalam jangka panjang, seperti UMKM, ekonomi kreatif, pertanian, dan pariwisata.
“Pemkab Kukar berkomitmen untuk terus membina para pelaku UMKM agar semakin maju dan berdaya saing. Apalagi setiap kecamatan memiliki produk unggulan kreatif masing-masing,” ujar Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin.
Berdasarkan data terbaru, jumlah UMKM di Kukar mencapai 40.776 unit usaha. Ragam usahanya pun beragam, mulai dari minuman herbal, makanan ringan, kuliner, kerajinan, batik, hingga berbagai produk kriya lainnya.
Upaya pembinaan dilakukan melalui berbagai program, seperti pemberian bantuan permodalan, penguatan inkubasi bisnis bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif, serta program pemberdayaan dan pendampingan usaha secara berkelanjutan.
Salah satu yang mendapat perhatian pemerintah daerah adalah Rumah Produksi Salambar, industri rumahan penghasil kain serat alami yang berlokasi di Kelurahan Salok Api Darat, Kecamatan Samboja Barat, wilayah yang termasuk dalam delineasi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Beberapa hari lalu, Wakil Bupati meninjau langsung rumah produksi tersebut. Kain serat alami Salambar dinilai sebagai representasi kreativitas masyarakat Samboja Barat sekaligus potensi unggulan daerah.
“Rumah produksi ini memang baru berdiri sekitar satu tahun. Namun karena para pelakunya aktif dan kreatif, berawal dari keinginan ibu-ibu rumah tangga untuk membuka lapangan pekerjaan, kini produk kain khas ini sudah mulai banyak diminati,” kata Wabup.
Kain Salambar dibuat dari serat alami berbahan dasar tanaman lokal dan pohon endemik, sehingga memiliki karakter unik dan nilai jual tersendiri. Keunggulan tersebut membuka peluang bagi produk ini untuk menembus pasar nasional.
Rendi menambahkan, pada awalnya usaha tersebut tumbuh secara swadaya di tengah masyarakat. Pemerintah daerah kemudian hadir memberikan dukungan sejak tahun lalu agar kapasitas produksi dan kualitas produknya terus meningkat.