Ayah dan Anak di Samarinda Kompak Kembangkan Usaha Tahu Bakso Bang Wan
- 20 Feb 2026 15:24 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang terus bertahan di tengah dinamika ekonomi. Ketekunan, inovasi, dan kemampuan membaca peluang pasar menjadi kunci agar usaha kecil dapat berkembang dan memiliki daya saing. Tak sedikit pula UMKM yang lahir dari semangat keluarga dalam membangun kemandirian ekonomi.
Dalam program Teras UMKM Pro 4 RRI Samarinda menghadirkan Muhammad Huta Pribadi bersama putranya, Muhammad Farrel Hafidz Adiputra, pemilik usaha Tahu Bakso Bang Wan yang berlokasi di kawasan Sempaja, Jalan Wahid Hasyim 2, Samarinda. Usaha ini menyediakan tahu bakso dengan varian original, pedas, dan isian ikan, yang dipasarkan secara offline maupun online.
Muhammad Huta Pribadi menjelaskan, usaha tersebut dirintis sejak 2019 sebagai upaya mencari peluang tambahan penghasilan. “Waktu itu kami melihat di Samarinda belum banyak yang menjual tahu bakso seperti ini. Jadi kami memberanikan diri untuk mencoba, mulai dari online dulu,” ujarnya, dikutip Jumat, 20 Februari 2026.
Ia mengakui, tantangan terbesar di awal merintis usaha adalah memperkenalkan produk kepada masyarakat. Bahkan, tak jarang calon pembeli mengira dirinya menjual bakso kuah biasa. “Pernah ada yang datang bawa mangkok karena dikira jual bakso. Padahal kami jual tahu bakso goreng,” katanya.
Pandemi Covid-19 sempat membuat usaha mereka terhenti. Penjualan menurun drastis hingga akhirnya memilih vakum sementara waktu. “Saat pandemi kami berhenti dulu. Baru sekitar dua tahun terakhir ini mulai lagi dan alhamdulillah penjualan sudah mulai naik,” ujarnya.
Nama “Bang Wan” sendiri diambil dari nama panggilan sang anak di rumah. Terinspirasi dari kiper idolanya, Wawan Hendrawan yang pernah memperkuat Persisam Putra Samarinda, nama tersebut akhirnya menjadi identitas usaha. “Adik-adiknya memanggil dia Bang Wan, jadi kami pakai saja nama itu untuk brand,” kata Huta.
Sementara itu, Farrel yang akrab disapa Wawan mengaku telah terlibat sejak awal usaha berdiri. Ia membantu proses produksi hingga pemasaran digital. “Saya ikut dari awal, mulai dari bikin, goreng, sampai promosi di media sosial. Seru dan banyak belajar,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan sejak usia sekolah membentuk mental wirausaha dan rasa percaya diri. Bahkan saat SMP, ia sudah terbiasa berjualan makanan di sekolah. “Saya belajar memanfaatkan peluang. Dari situ jadi terbiasa dan tidak malu untuk berjualan,” ucapnya.
Meski terkadang terjadi perbedaan pendapat antara ayah dan anak, keduanya sepakat komunikasi menjadi kunci utama. “Kalau ada perbedaan, kami bicarakan baik-baik. Tujuannya sama, supaya usaha ini terus berkembang,” ujar Huta.